{Gift} Cause Who You Are So Beautiful

Author   : Elftodie21

Cast       : Lee Donghae, Park Haerin, No Minwoo, Choi Eunji

Rate       : PG15

Genre     : Romance, Friendship

Annyeong ^^ hehehe…. I’m back yeorobun!! Kali ini aku bikin ff ini sendirian. Yah.. Walaupun ada yang di edit di sana sini. Atas bawah, kanan kiri, depan belakang hehehehhe oleh aku sendiri dan author Syipoh. Tapi ff ini aku bikin beberapa tahun yang lalu pas masih kuliah dan itu udah sekitar 3 ato 4 taun yang lalu tapi gak pernah aku publikasikan karena gak pede. Hahaha… Dan maklum aja deh ya tar kalo baca nih ff agak2 gimana gitu… Kkkk. Mungkin karena dulu aku bikinnya pake cast nama Indonesia jadi sekarang aku ganti jadi cast Lee Donghae dan Park Haerin. Oh,ya. FF ini juga aku persembahkan untuk my dearest eonnie aka Park Haerin Eonnie aka Rhien Eonnie si Elfishy yang nge request minta dibikinin ff as her wedding present.

Ini bukan ff recycle kok onn. Cuma udah lama dan baru aku kasih liat ama temen satu kosanku dulu dan dia tidak berkomen apa-apa jadi aku gak mau publikasiin karena kecewa dia tidak merespek seperti harapanku. Jadi, mudah-mudahan kali ini eonnie suka ya? Tenang onn udah aku upgrade banyak kok. Hahaha…

Mianhae kalo nanti menemukan kata-kata yang sedikit membuat hati kalian mual. Hahaha… Itu banyak kata-kata yang bikin aku sendiri pengen ngakak. Ah.. Dan kita juga minta maap ama pasangan si ikan di blog kita karena posisinya digantikan sementara. Jangan tendang kita, ya? *kedipkedip*

Okelah kalo begitu daripada penasaran, Happy reading Kkumers tercinta, Salam Bonamana xD

*****

Haerin’s P.O.V

“Dan pemenangnya adalah….. Choi Eunji.”

“Ya!! Itu kan namamu….Gyaaaaa….” sorakku sambil mengguncangkan tubuh Eunji dengan semena-mena saat diumumkan juara speech contest antar fakultas yang dimenangkan sahabatku Eunji.

“Ya!! Lepaskan~… Apa yang kau lakukan padaku, Haerin~ah….” katanya dengan wajah =_=.

“Mianhae aku terlalu senang. Kkkk.” jawabku berhenti mengguncangnya.

Dia segera naik ke panggung dan menerima hadiah dari rektor kami.

“Waaaaa!! Daebakida!!! Chukhahae!!!” kata No Minwoo,  namja yang sangat aku sukai tiba-tiba muncul dari belakang panggung. Jantungku berdebar dan langsung terdiam.

“Geure!! Berarti sekarang kau yang mentraktir kami, Haerin~ah …” celetuk Lee Donghae, musuh abadiku yang terkenal menyebalkan ini. Entah darimana dia juga tiba-tiba muncul tanpa diundang. Sebenarnya tidak juga sih, karena kami memang sekelas.

“Ya! Memangnya aku yang menang lomba?” jawabku galak. Donghae hanya mengerucutkan bibirnya tanda tak setuju.

“Aish!! Kalian ini seperti kucing dan anjing saja. Berkelahi terus. Sudahlah… Yang penting sekarang aku menang. Yeeeeeyyy…” kata Eunji mengakhiri perang yang hampir terjadi antara aku dan Donghae.

“Benar sekali… Kalian ini terlalu akrab jadi selalu bertengkar. Aku jadi iri..” kata Minwoo sambil memamerkan senyuman yang membuatnya terlihat lebih tampan. Gyaaa!! Aku ingin sekali berteriak.

“Kau tenang saja Donghae~ya…  Aku akan mentraktirmu…”  tambah Eunji lagi.

“Kau memang baik Eunji~ya… Tidak seperti… ” Donghae melirikku dan aku melotot padanya.

“NUGU??? Kau mau menyebut namaku, kan?? Sebut saja!!!” Donghae terkekeh seakan-akan melihat tanduk di kepalaku. Dia itu senang sekali meledekku.

Sebelumnya, annyeong haseyo. Namaku Park Haerin. Aku baru saja memasuki semester ke empat di Universitas Kyung Hee. Sudah dulu, ya? Eunji mau mentraktir kami… Kalian akan mengenalku lebih jauh lagi seiring jalannya cerita ini. Annyeong ^^

—–

“Eolmana eolmana deo neoreul ddrrtt…. Ireoke baraman bomyeo honja i baram dddrtt ….Gateun sarang geoji gateun sarang gyesokhaeya nega nareul sarang hagenni~” suara ponsel Eunji berbunyi. OST Secret Garden itu masih saja menjadi favoritnya.

“Yeoboseyooouuungg…” sapa Eunji dengan aegyonya yang membuatku ingin melemparnya dengan sandalku.

“Ya! Lama sekali sih kau mengangkat teleponku??” semprotku.

“Aku mendengarkan suara Hyunbin Oppa dulu sampai selesai hehehe… Wae?” jawabnya sambil tertawa.

“Shiroooo………….!!!!!” teriakku melepaskan emosiku.

“Ya! Apa-apaan kau ? Berisik sekali!”

“Ugh… Aku masih merasa kesal dengan Lee Donghae. Dia itu selalu saja meledekku. Kurang ajar sekali. Dia bilang aku pelit di depan Minwoo Oppa. Aku kan malu sekali. Bisa jatuh harga diriku. Aish!!” keluhku.

“Mwo? Minwoo Oppa?? Huahhahahahha… Dia itu hanya tua beberapa bulan saja dibanding kau, babo~ya….” Kali ini aku bisa mendengarnya tertawa dengan keras.

“Biar saja… Aku tidak peduli. Yang jelas masalahnya sekarang aku benar-benar kesal pada Lee Donghae itu…!!” kataku kesal.

“Sabar sabar… Orang sabar disayang Tuhan.”

“Sabar bagaimana??!!! Dia menyebalkan sekali. Dia tidak tahu ya kalau aku suka pada Minwoo Oppa. Tukang ikut campur sekali.”

“Aigoo… Sepertinya hampir setiap hari kau mengomel tentang Donghae. Dia sedang cari perhatian  padamu mungkin…”

“Aish! Shirooo! Aku membencinya!!! Kau kan tahu aku sangat membencinya. Bagaimana bisa kau bicara seperti itu Eunji~ya.”

“Yeah… Bagaimana lagi kau selalu saja curhat tentang dia. Huuuaammm…. Aku sampai bosan.” jawabnya sambil menguap.

“Arasseo… Arasseo… Kalau begitu sekarang ganti topik saja. Dia juga sih… Mengganggu percintaanku dengan Minwoo Oppa.”

“Eiii…!!!” cibir Eunji.

“Hehehe…Ya~… Besok giliranmu menjemputku, kan?”

“Eo…”­­

“Ya sudah begitu saja. Gomambta.”

“Aish!! Kenapa aku selalu jadi tempat sampahmu, sih?? Dan kenapa pula Donghae yang selalu menjadi topiknya. Bosan sekali mendengarnya. Tsk…”

“Loh, aku kan juga bercerita tentang Minwoo.”

“Memang. Tapi… Ya. Dua topik itu terus yang jadi bahannya.”

“Makanya kau jangan pacaran terus dengan pidato-pidatomu itu. Sepertinya kau butuh jatuh cinta juga…”

“Ya!!”

“Ya sudah… Aku mau telepon Minwoo dulu… Annyeong…” Aku langsung menutup teleponnya.

“Ya!!! Jinjja!!” Eunji memandang kesal teleponnya yang sudah bernada ‘tut tut tut’ karenaku.

—–

“Haerin~ah… Tadi aku menemukan kertas. Tapi, tertulis untukmu. Jadi, aku berikan padamu saja ya?” Tiba-tiba  teman sekelas kami Kim Kibum menyerahkan sepucuk surat saat aku dan Eunji sedang asyik-asyiknya menyantap kimbab dikantin.

“Dari siapa?”

“Molla. Hanya melihat bahwa kertas ini ditunjukan atas namamu.” jawab Kibum sambil mengangkat bahunya.

“Oke, gomawo…”

“Annyeong…” Sepeninggal Kibum kami berdua jadi penasaran. Memikirkan siapa orang yang mengirimkan kertas itu. Yang membuat kami tambah penasaran lagi, orang aneh ini mengirimnya untukku.

“Siapa ya, yang mengirimnya?? Hmmm baunya wangi sekali… Cepat buka Haerin~ah.” kata Eunji masih sambil menghirup wangi yang datang dari kertas tersebut.

“Iya, ini juga sedang kubuka. Cerewet sekali kau! Lagipula ini kan untukku. Kenapa kau yang ribut?” kataku sambil membuka kertas yang dilipat-lipat itu.

“Dari wanginya sepertinya ini surat cinta.” ucapnya penuh selidik.

“Cish… Masa jaman sekarang pakai surat begini.”

“Ya~… Berarti dia romantis. Ara?” bela Eunji.

“Dari siapa, ya?”

Secret admirer-mu mungkin…”

“Aku harap dari Minwoo Oppa. Kkkk…” ucapku penuh harap.

“Biar aku saja yang membacanya.” Eunji merebut surat itu yang penasaran setengah mati.

“Ya~ ini…. Puisi….” gumam Eunji saat selesai membacanya dalam hati.

“Cepat baca Eunji~ya…” pintaku.

“Aigoo…. Kau mendapat puisi cinta…Walaupun pendek. Tapi, ini romantis sekali…” ledek Eunji menyenggol lenganku. Aku menepukkan kedua tanganku kedua sisi pipiku yang ku yakini sekarang sudah memerah seperti tomat.

“Uh… Senang sekali kau… Aku saja belum pernah mendapat puisi seromantis ini.” komentar Eunji. Aku yang diledek cuma tersenyum seperti orang gila.

“Oh…Minwoo~ya…” gumamku.

End of Haerin’s P.O.V

 

Donghae’s P.O.V

Aku mengintip mereka dari jauh. Rupanya surat itu ditemukan Kibum. Aku memang sengaja menaruh surat itu di meja ruang rapat kami.

“Aigoo…. Kau mendapat puisi cinta…Walaupun pendek tapi ini romantis sekali…”  ledek Eunji menyenggol lengannya. Dia menepukkan kedua tangannya di kedua sisi pipinya.

“Uh… Senang sekali kau… Aku saja belum pernah mendapat puisi seromantis ini.” komentar Eunji. Dia tersenyum. Bibir tipisku pun mengikuti gerakannya.

“Oh…Minwoo~ya…” gumamnya pelan.

Minwoo? Minwoo? Jadi dia menyukai Minwoo.

“Hhh…” Aku menarik nafas panjang. Apakah selama ini dia tidak menyadari perasaanku? Apa dia tak bisa merasakan sinyal-sinyal yang aku berikan untuknya?

 

Flashback

Aku mengalihkan perhatianku dari buku yang sedang kubaca saat mendengar suara ribut yang disebabkan oleh seorang yeoja. Dia tampak sedang mengomeli seorang ahjussi.

“Ahjussi! Bagaimana kau bisa duduk dengan enaknya dan pura-pura tak melihat halmoni ini di sebelahmu??!! Dia ini kan sudah seperti ibumu sendiri ahjussi…”

“Arasseo Agassi…” Ahjussi itu mengalah dan beranjak dari kursinya meskipun dengan sedikit mengomel.

Aku tersenyum melihat ekspresi wajahnya itu ketika marah. Terlihat lebih cantik dan lucu.

“Halmoni… Anjuseyo (silahkan duduk)…” Dia kini tersenyum dan mempersilahkan halmoni itu duduk di tempat ahjussi tadi.

Wajahnya pun kembali cerah dan membuat jantungku berdebar abnormal. Tak lama, bis yang kami naiki berhenti di halte dekat kampus baruku. Aku melihatnya berlari mendahuluiku.

“Eunji~ya!!” Dia memanggil temannya yang sudah menunggu di halte dengan wajah yang ceria. Dalam beberapa menit, aku sudah bisa melihat tiga ekspresi yang lucu dari wajahnya itu. Aku tak tahu sudah berapa kali aku tersenyum karena tingkahnya. Aku menyusul turun dari bis. Bisa kulihat dia sudah berjalan agak jauh dengan temannya tadi di depanku. Lagi-lagi bibirku menyunggingkan senyum.

“Donghae~ya!!!” Aku melihat Minwoo Hyung, saudara sepupuku melambai padaku.

“Hyung!!” Aku segera berlari menghampirinya.

Entah setan apa yang merasukiku saat ini. Tiba-tiba saja aku ingin melihat ekspresi wajahnya marahnya lagi. Jadi, aku sengaja berlari dan meyenggolnya.

“Bruuaakk!!” Aku menyenggol pundaknya cukup keras sampai dia terjerembab jatuh ke depan.

“YA!!!! Kau tak punya mata, ya??!!!” Dia berteriak padaku. Wajahnya terlihat lucu sekaligus cantik disaat yang bersamaan. Beberapa orang yang lewat bahkan menghentikan langkah mereka.

“Huahahahahahahaha… Kau lucu sekali.” Aku mentertawakannya.

“Haerin~ah… Gwaenchanha??” temannya membantunya berdiri.

“Kau terluka?” Tiba-tiba Minwoo Hyung sudah mendekati kami dan membantu yeoja itu berdiri bersama temannya tadi.

“Mianhaeyo… Adikku ini memang suka begitu… Gwaenchanhayo?” Minwoo Hyung membungkuk dan tersenyum lalu meminta maaf karenaku.

Aku melihat ekspresi wajahnya berubah lagi. Wajah itu terlihat takjub saat melihat Minwoo Hyung.

“Ya! Park Haerin! Kau baik-baik saja?” tanya temannya.

“Ah~… Ne. Gwaenchanhayo… Kamsahamnida…” Ekspresinya kembali berubah saat melihatku.

“Ah~… Mianhaeyo… Hahahaha…” jawabku meledeknya lagi.

“Baiklah. Kami duluan, ya?” pamit Minwoo Hyung.

“Annyeong!!” Aku ikut berpamitan pada mereka. Samar, aku bisa mendengar dia masih mengomel karena ulahku.

End of Flashback

 

“Ya!! Dimana kau tadi? Kenapa tidak datang saat rapat??!!!” teriaknya padaku.

Aku sedang malas sekali bertengkar dengannya. Dia menyukai Minwoo. Aku jadi tahu kenapa saat ada Minwoo dia menjadi pendiam sekali. Tapi kenapa harus Minwoo Hyung? Sepupuku sendiri?

“……”

“Jawab aku. Lee Donghae!!!” Dia menggentak lagi.

“Aku sedang malas.” jawabku yang langsung pergi dari hadapannya.

Tiba-tiba, aku merasa tidak bersemangat lagi. Sepertinya aku butuh sedikit waktu. Aku akan membuatnya menyukaiku lebih daripada dia menyukai Minwoo.

End of Donghae’s P.O.V

—–

Haerin’s P.O.V

Hari ini aku meminta Eunji untuk menemaniku membeli camilan. Meskipun anehnya badanku tetap saja begini. Eunji sering iri padaku karena aku punya keistimewaan ini. Hahaha…

“Eunji~ya, aku ingin kau memberiku sedikit saran.” kataku ditengah acara ngemil kami.

“Tentang??”

“No Minwoo…”

“Wae ddo? (kenapa lagi?)”

“Aku…. Ingin menyatakan perasaanku padanya.”

“Uhuk… Uhuk…!!!” Eunji tersedak.

“Gwenchanha??”

“Mwo?? Menya…uhuk uhuk…takan pera uhuk uhuk saanmu uhuk pada Minwoo…uhuk…??”

“Begitulah…Gwenchanha?”

“Gwenchanha…” jawabnya setelah minum jus jeruknya.

“Menurutmu bagaimana?”

“Kau berani??”

“Ya… Habis bagaimana?? Aku sudah tidak tahan. Jantungku sudah mau meledak kalau melihat dia.”

“Micheonya? (Kau gila?)” Mata Eunji sudah mau keluar dari tempatnya mendengar keputusanku yang akan mengutarakan perasaanku langsung pada Minwoo.

“Ani. Jadi bagaimana menurutmu?”

“Kapan kau mau mengutarakannya??”

“Mmm….Besok.”

“Uhuk..uhuk…be…besok??”

“Iya. Besok setelah aku selesai kuliah.”

“Kau sudah siap?? Kau sudah lama merencanakannya??”

“Aku hanya perlu bilang, ‘saranghae’ begitu, kan? Lalu apa susahnya??” jawabku santai.

“Tidak segampang itu. Kau sudah siap kalau dia menolakmu?” Eunji mengguncang tubuhku pelan.

“Aku sudah siap. Aku tahu semua ada resikonya.” balasku.

“Kau serius? Sudah dipastikan belum kalau Minwoo belum mempunyai pacar?”

“Ya…. Mudah-mudahan sih begitu. Aku tahu dia itu popular sekali. Tapi, aku belum pernah lihat dia pulang dengan seorang yeoja.”

“Arasseo… Semuanya aku serahkan padamu. Sebagai seorang sahabat yang baik, aku akan selalu mendukungmu  Haerin~ah. Fighting!!”

“Fighting!!” Ah~…  Joha… Eunji mendukungku.

“Geunde… Donghae bagaimana??” tanya Eunji tiba-tiba.

“Lee Donghae??” Aku mengulang pertanyaannya.

“Iya, Lee Donghae…”

“Memangnya aku peduli padanya?” ucapku cuek sembari mengambil toples selanjutnya yang masih penuh.

“Belakangan ini, aku perhatikan dia diam jika kau mengomel tidak jelas padanya.”

“Enak saja! Aku mengomel dengan jelas, kok. Tapi benar juga katamu. Kenapa aku baru sadar sekarang? Seperti ada yang kurang.” Aku mengerutkan keningku.

“Kau aneh sekali. Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?”

“Iya. Selain dia siapa lagi yang bisa mengalahkan aku lagi dalam adu mulut.” ASku menghela nafas. Entah kenapa aku….

“Merasa kehilangan dia??” ucapnya tepat sasaran.

“Jogeum (sedikit)… Habis kalau tidak ada dia jadi aneh sekali. Tapi, terkadang dia memang menyebalkan sekali, sih…” Eunji tersenyum penuh arti.

End of Haerin’s P.O.V

—–

Donghae’s P.O.V

“Donghae~ya. Aku ingin bicara sebentar.” kata Minwoo. Minwoo sebenarnya adalah kakak sepupuku, tapi dia satu angkatan denganku.

“Mwonde, Hyung?” Walaupun begitu aku tetap memanggilnya Hyung

“Sesuai saranmu, akhirnya aku menyatakan perasaanku pada Yoohee kemarin.”

“Jinjjaya??” tanyaku senang.

“Ne…”

“Lalu?” tanyaku lagi penasaran dengan apa jawaban yang diutarakan Yoohee.

“Hmmm…” Minwoo tersenyum berseri-seri.

“Chukhahanda, Hyung!!” aku menepuk pundaknya.

“Gomawo. Kau boleh makan apa saja yang ada di kantin. Aku yang traktir.”

“Tidak perlu, Hyung…”

“Wae??”

“Tidak perlu lama-lama maksudku. Hehehe…”

Aku senang sekali karena rival utamaku dalam pengejaran yeoja yang kusukai sudah pergi. Kalian sudah tahu, kan? Sebenarnya aku sudah lama menyukai Park Haerin. Tapi, selama ini aku hanya diam karena aku tahu dia menyukai Minwoo Hyung. Tapi, aku tidak akan menyerah. Aku punya cara sendiri untuk menunjukan rasa sukaku padanya.

Aku mencoba akrab dengannya dengan cara mengganggunya. Aku melakukan itu semua juga karena aku bingung bagaimana cara mengungkapkan perasaanku ini. Ini sudah minggu ketiga sejak aku tahu bahwa dia menyukai Minwoo Hyung. Jika kupikir masak-masak lagi, apa gunanya aku marah? Tapi, memang susah sekali menghilangkannya dari otakku. Aish!! Molla!! Mungkin ini karena aku sangat menyukainya dan cemburu pada Minwoo Hyung. Dia berbeda dengan yeoja yang lain. Aku suka sekali saat dia marah padaku karena ledekanku.

“Minwoo~ya… Kiriman untukmu.” Tiba-tiba Jungmo datang sambil memberikan secarik kertas didepan kami.

“Untukku?” Sejenak Minwoo Hyung menarik perhatiannya dari mangkuk jajangmyeon nya.

“Sudah pasti untukmu. Jika untuk Donghae, aku pasti tidak akan memanggilmu babo!” jawab Jungmo yang kemudian langsung pergi.

“Gomawo!!” balas Minwoo Hyung. Jungmo mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan. Kemudian, Minwoo Hyung membuka kertas itu dan membaca catatan kecil yang tertulis.

“Dari siapa?” tanyaku penasaran.

“Haerin.” jawabnya singkat.

“Haerin? Apa isinya?” Aku menjulurkan tubuhku untuk bisa melihat lebih jelas.

“Katanya dia ingin bicara sesuatu padaku.”

“Glekk!!” Aku menelan kimbab ku dengan sedikit usaha. Rasanya seperti mendengar petir di atas kepalaku langsung.

“Wae??” tanyanya bingung. Sepertinya dia melihat ekspresi kagetku.

“A…aniya.”  Aku cepat-cepat melanjutkan makanku. Hatiku kacau balau. Baru saja harapan dan anganku melambung tinggi. Tiba-tiba saja, aku merasa jatuh dari atas langit sana.

End of Donghae’s P.O.V

—–

Haerin’s P.O.V

Setelah kuliahku berakhir hari ini, aku berjalan mondar-mandir di daerah seksi E-21, tempatku berjanji bertemu dengan Minwoo. Aku sudah mengusir Eunji. Aku bilang aku ingin mengurusnya sendiri. Malu sekali, kan kalau memang aku nantinya ditolak. Sepertinya aku terlalu percaya diri sekali.

Aku melihat jam tanganku. Sudah jam tiga. Tapi, Minwoo belum juga datang. Jantungku sudah mau copot rasanya. Wae wae wae?? Padahal tadi aku tenang-tenang saja.

“Jangan-jangan dia tidak mau menemui aku, ya? Tuhan… Kenapa aku senekat ini??” Aku berkata pada diri sendiri. Aku sudah mau pulang ketika aku mendengar dia menyapaku.

“Annyeong…”

“A..annyeong…” balasku sedikit ragu-ragu. “Ehmm… Gomawo kau sudah dating.”

Aku spontan kaget dengan kata-kata yang baru saja aku keluarkan. Bicara apa sih aku ini? kataku dalam hati menyesal. Kenapa suasananya jadi canggung, ya? Jadi, ternyata aku baru menyadari kalau kata-kata Eunji memang benar. Mengutarakan perasaan itu tidak gampang.

“Aniya. Gwenchanha. Ada apa Haerin~ah??” tanya Minwoo.

“Mmm… Aniya… Aku hanya ma..mau bilang….” Aku salah tingkah juga.

“Ya??” dia menunggu.

“Sa…sa….saranghae.” Aku mengucapkan kalimat terakhir dengan setengah berteriak dan sambil memejamkan mata. Beberapa detik tidak ada jawaban dari Minwoo. Perlahan aku membuka mataku. Wajahku masih merah karena malu. Minwoo masih memandangku.

“Haerin~ah… Mianhae….” Aku masih berdoa dan mengharapkan kalo jawabannya Haerin~ah… Mianhae….Aku tidak bisa menolakmu.’

Tapi, jawaban Minwoo adalah…

“Kita…. Jadi teman saja, ya? Mianhae aku sudah punya pacar. Bukan teman sekampus kita. Tapi, kita tetap teman, kan?? Aku juga menyukaimu. Tapi, hanya sebagai teman. Kau salah satu teman baikku. Dan akan tetap jadi teman baikku. Jeongmal minahae….” Minwoo menepuk bahuku. Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Mianhae Haerin~ah… Gwenchanha??” Aku tersadar dari diam lalu tersenyum. Senyum yang sangat kupaksakan.

“Hmm…” jawabku mencoba tegar.

“Aku pulang dulu ya?” Aku mengangguk. Setelah dia pergi, baru air mataku bisa keluar. Hatiku sakit sekali. Rasanya seperti ada berpuluh ribu paku yang menusuk dadaku. Ah, ani. Bahkan puluhan ribu paku itu sepertinya tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan sakit yang menderaku saat ini.

“Cengeng!! Apa yang kau lakukan disitu?” Aku terperanjat dan mencari sosok kurang ajar yang memanggilku cengeng.

“Donghae~ya???!!”

“Kau sedang apa disitu? Menangis begitu?” ejeknya.

“Hu…hu…huaa……” Tangisku sudah tak terbendung lagi. “Nappeun neom….” Aku berdiri lalu pergi meninggalkan Donghae sendirian. Aku benci sekali padanya seketika. Kenapa dia malah mengejekku?? Pasti sekarang dia sedang menertawakanku.

“Ya!! Masih banyak namja yang lebih baik. Ara??!!!” teriak Donghae ke arahku yang berlari semakin menjauh. Aku tidak mau dia semakin meledekku karena menangis di hadapannya.

End of Haerin’s P.O.V

 

Donghae’s P.O.V

“Eunji~ya… Doakan aku, ya?” Aku mendengarnya bicara pada Eunji.

“Kau yakin akan melakukannya sendirian?” tanya Eunji. Aku pura-pura masih merapikan barang-barangku agar aku bisa mendengarkan mereka.

“Tenang saja…” katanya. “Ya sudah kau hati-hati di jalan…. Annyeong…”

Aku segera mengikutinya dalam jarak yang sedikit jauh tapi masih dalam jarak pandangku untuk melihat apa yang dia lakukan. Aku sudah tahu Minwoo Hyung akan menolaknya karena dia sudah punya Yoohee.

Saat sudah sampai di perpustakaan, aku langsung menempatkan diri di seksi E-25 agar bisa melihatnya. Tempat ini adalah seksi yang terdapat agak jauh dari tempat pustakawan dan meja-meja baca.

Aku melihatnya mondar-mandir dengan gelisah karena Minwoo Hyung tak kunjung datang.

“Jangan-jangan dia tidak mau menemui aku, ya? Tuhan… Kenapa aku senekat ini??” Dia bergumam sendiri. Aku mendengar langkah kaki lagi dan memeriksa siapa yang dating. Benar dugaanku. Ternyata memang Minwoo Hyung yang datang.

“Annyeong…” sapanya.

“A..annyeong…” balasnya sedikit ragu-ragu. “Ehmm… Gomawo kau sudah dating.”

“Aniya. Gwenchanha. Ada apa, Haerin~ah??” tanya Minwoo Hyung dengan santainya.

“Mmm… Aniya… Aku hanya ma..mau bilang….” Dia terlihat salah tingkah. Bodoh sekali.

“Ya??”

“Sa…sa…. Saranghae.” Dia mengucapkan kalimat terakhir dengan setengah berteriak dan sambil memejamkan mata. Minwoo Hyung tak langsung menjawab. Dia kelihatan ragu dan bingung juga menjawabnya. Aku tahu Minwoo tak tega menyakitinya.

Perlahan, dia membuka matanya. Semburat di wajahnya masih terlihat jelas. Aish… Aku tidak suka melihatnya memperlihatkan semburat itu keluar dari wajahnya.

“Haerin~ah… Mianhae….” Jantungku ikut berdebar. Rasanya, aku ingin menghentikan semua itu. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Aku tak bisa melakukan apapun.

“Kita…. Jadi teman saja ya? Mianhae aku sudah punya pacar. Bukan dari universitas kita. Tapi, kita tetap teman, kan?? Aku juga menyukaimu. Tapi, hanya sebagai teman. Kau salah satu teman baikku dan akan tetap jadi teman baikku. Jeongmal minahae….” Minwoo menepuk bahunya. Aku yang melihat hal itu tidak bisa berkata apa-apa.

“Mianhae Haerin~ah… Gwenchanha??” Dia tersenyum lemah. Ada ekspresi kecewa di wajahnya.

“Hmm…” jawabnya.

“Aku pulang dulu, ya?” Minwoo Hyung berpamitan. Dia mengangguk. Tak lama setelah Minwoo menghilang, dia terduduk dan mulai terisak. Ah~… Kau itu memang bodoh sekali, Park Haerin…. Aku segera melangkahkan kaki dari situ mendekatinya.

“Cengeng!! Apa yang kau lakukan disitu?” Aish.. Kenapa malah kalimat ini yang keluar dari mulutku? Dia berhenti menangis terperanjat mendengar kalimatku.

“Donghae~ya???!!”

“Kau sedang apa disitu? Menangis begitu?” ejekku. Aish! Kenapa kalimat seperti ini yang keluar dari mulutku? Padahal tadinya ku hanya ingin bilang padanya agar dia tetap tenang dan mencari namja yang lebih baik, aku misalnya.

“Hu…hu…huaa……” Tangisannya sudah tak terbendung lagi. Aku menepuk dahiku sendiri. Bukannya menghiburnya, aku malah membuat tangisannya tambah kencang.

“Babo…” kataku pada diriku pelan.

“Nappeun neom….”

Dia berdiri lalu pergi meninggalkanku yang langsung salah tingkah.

“Ya!! Masih banyak namja yang lebih baik. Ara??!!!” terikku padanya.

End of Donghae’s P.O.V

—–

Author’s P.O.V

“Drrrt…I hate this love song…drrt…Hate this love song…drrt…” Sekitar jam tujuh malam lagu “Love Song” Big bang berbunyi tanda ada SMS. Eunji segera mengambil handphone-nya

 

From : Haerin

Need some help!!! Kita harus bertemu!!! Palliwaaaaaaaa!!!!

 

To : Haerin

Otti?

 

From : HAerin

Terserah kau saja…T_T

 

Eunji segera mengganti bajunya dan pergi ke rumah Haerin. Sesampainya di rumah Haerin, Eunji membunyikan klakson agar Haerin cepat keluar.

“Iya iya…. Aku datang!!” teriaknya menuju mobil.

“Annyeong!!”sapa Eunji.

“Kau benar-benar berisik, Eunji~ya…” kata Haerin sambil membuka pintu mobil.

“Hehehe. Biar kau cepat keluar…”

“Dasar!!”

“Junbi? Julballllll…!” Kami berdua menuju Café.

“Eosseo oseyo… Ada yang mau kalian pesan?” tanya pelayannya.

“Aku pesan Spagetti dan Steak dua porsi. Lalu, aku mau Cola juga ukuran Large. ” kata Haerin.

“Bawakan aku teh camomile saja…” kata Eunji. Pelayan itu segera mencatat pesanan mereka.

“Ne, jamsimanyo(tunggu sebentar)…” jawabnya kemudian.

Selagi menunggu pesanan dating, Eunji segera bertanya pada Haerin tentang aksi pernyataan cintanya itu.

“Kau pesan banyak sekali. Apakah ada masalah? Ya~ tunggu… Ne nuni waekure? (matamu, kenapa?) ” Eunji baru sadar kalau mata Haerin bengkak.

“Aku……”

“Kau….. Ditolak??” tebaknya. Mata Haerin mulai berair lagi. Eunji mengelus punggung Haerin lembut.

“Tenang saja. Masih banyak namja yang lebih baik.” Haerin tersentak mendengar kalimat yang dilontarkan Eunji.

‘Itu kan kalimat yang sama seperti yang dikatakan Donghae.’ pikir Haerin Tangisanya pun makin menjadi gara-gara kalimat itu.

“Ya!! Wae wae wae?? Gwaenchanha… Kau kan bilang sendiri kau sudah siap menanggung semua resikonya.” ucap Eunji panik.

“Masalahnya bukan itu. Tadi saat aku mengungkapkan perasaanku, Donghae tiba-tiba muncul dan mengejekku. Dasar namja menyebalkan.”

“Mwo? Donghae?? Dia ada disitu??”

“Molla. Dia tiba-tiba saja sudah muncul dan berkata sama sepertimu bahwa masih banyak namja yang lebih baik. Berarti dia tahu, kan jika aku ditolak? Huaaa… Aku malu sekali. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya besok?” Sekarang Haerin baru berhenti menangis.

“Kau sudah selesai menangis?” tanya Eunji

“Eo, sudah…” Haerin menghapus air matanya.

“Jangan-jangan Donghae memang sudah ada di situ ketika kau bicara pada Minwoo. Lalu, dia memang sengaja menunggumu. Jangan-jangan juga dia suka padamu. Mungkin, tadinya dia ingin muncul sebagai pahlawan. Tapi, karena kebiasaannya berbicara padamu seperti itu. Jadi, hasilnya malah dia menyakitmu. Kau kan tahu kalau gaya bicaranya memang seperti itu. Apalagi jika sedang bicara padamu.”

“Tsk… Molla… Yang jelas, jika dia belum meminta maaf padaku, aku juga tak akan memaafkannya.”

“Ya~… Ngomong-ngomong kenapa Minwoo menolakmu?” tanya Eunji penasaran.

“Ah~… Ternyata dia sudah punya yeojachingu.”

“Jinjja? Kenapa tidak ada gosip yang menyebar ,ya?” tanya Eunji.

“Yeojachingu-nya tidak kuliah di universitas kita.”

“Aa~… Geure? Pantas saja..” Sesaat kemudian pesanan mereka datang.

“Kamsahamnida….” kataku.

“Ne… Masigedeuseyo…(selamat menikmati)”

“Jamkkanmanyo…. Bisa tambah pesanannya?” tanya Haerin.

“Geureyo.”

“Aku mau es krim Choconuts, Strawberry Kiss, Vanilla sky. Mmmm…. Dan Bluberry Crush. Kau mau juga, Eunji~ya?” tawar Haerin. Eunji membuka mulutnya tak percaya.

“Ani. Nanti aku minta kau saja… Aku sedang diet.” jawab Eunji setelah dia menutup mulutnya.

“Tenang saja. Aku yang bayar semua untuk merayakan hari sakit hatiku.” kataku.

“Michyeo…” gumam Eunji karena perilakuku ini.

—–

“Eunji~ya… Aku mau mengambil foto yang kemarin dijanjikan Hyunwoo. Kau tunggu di kantin ya?” kata Haerin saat istirahat besoknya. Hyunwoo adalah adik kelas kami yang hobi fotografi. Haerin memintanya untuk mengambilkan beberapa objek foto untuk digunakan mendekorasi kamarnya.

“Hyunwoo~ya…” panggil Haerin.

“Eo! Haerin Nuna…”

“Kau tidak lupa janjimu, kan??”

“Tentu saja…. Jamkkaman.” Hyunwoo mengaduk-aduk isi tasnya.

“Igo.” katanya setelah menemukan apa yang dicarinya. Dia memberikan Haerin sebuah file holder berwarna biru saphire.

“Waaaaa… Gomabta… Aku tidak perlu bayar, kan?” Haerin menerimanya dengan mata berbinar.

“Kau bayar double Nuna…” jawab Hyunwoo sambil menengadahkan tangannya. Haerin langsung melotot dan memukul lengannya dua kali.

“Sudah lunas, kan? Aku bayar kau double.” katanya sambil kabur.

“Haerin Nunaaaaaa!!”

“Kkkkk…” Haerin keluar dari kelas Hyunwoo setelah mendapatkan apa yang dia cari. Dia segera melangkahkan kakinya ke kantin menyusul Eunji. Karena penasaran, Haerin membuka file holder itu dan melihat hasil foto Hyunwoo sampai-sampai dia tidak memperhatikan jalan.

“Bruakkk!!!” Haerin menabrak seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Donghae, musuh bebuyutannya.

“Ya!!! Kau itu sedang apa, hah??!!” Haerin mengusap pantatnya yang sakit.

“Tsk!! Kau sendiri bagaimana??” Donghae berdiri.

“Sudah. Aku sedang malas bertengkar denganmu. Minggir!!!” Donghae mengambil file holder yang paling dekat dengannya. Kebetulan file holder yang dibawa keduanya itu sama.

“Aish!! Jeongmal!! Aku sial sekali bertemu denganmu, Lee Donghae!! Awas saja kau.” janji Haerin sambil berdiri dan memungut sisa file holder yang tadi ditinggalkan Donghae. Sejak kejadian minggu lalu, kedua orang itu memang jadi jarang sekali berkomunikasi lagi. Jangankan bertengkar seperti biasa, melirik saja tak pernah.

Donghae sampai di kelas dengan muka ditekuk.

“Dia itu bodoh atau apa? Tak bisa lihat jalan. Masih memikirkan Minwoo Hyung juga atau bagaimana sih?? Aish!!” Donghae membanting file holder-nya sambil mengumpat.

“Kau kenapa?” tanya Kibum.

“Aniya…” jawab Donghae dingin.

“Ya~… Apa ini Donghae~ya? Bolah kupinjam??” Kibum mengambil buku itu.

Donghae tak mendengarnya karena pikirannya penuh dengan Haerin.

“Ige mwoya?? Kau mendapatkan foto-foto ini darimana? Keren sekali…” tanya Kibum sambil mengerutkan dahi dan mengangkat foto-foto yang ada didalam file holder itu.

“Mwo??” Donghae langsung berdiri dari tempatnya dan merebut fotonya. Dia membuka-buka file holder-nya lagi dan yang ditemukannya hanyalah foto-foto milik Haerin.

Seketika itu juga dia berlari keluar kelas lagi.

End of Author’s P.O.V

 

Haerin’s P.O.V

“Eunji~ya!!….” ppanggilku dengan semangat.

“Igo…” Aku duduk disebelah Eunji.

“Hyunwoo membawanya?” Eunji mengambil file holder-nya.

“Ya~… Bagaimana jika kita melihatnya di kelas saja? Disini banyak makanan. Bisa-bisa foto-foto ini kotor terkena makanan.” saranku.

“Betul sekali katamu. Kaja…” Kami pun segera meninggalkan kantin dan menuju kelas.

“Ah~ Johda…(bagus sekali…)” gumam Eunji sambil membuka file holder-nya.

“Mwoya ige?? Kenapa…” Eunji kembali bergumam sendiri. Sementara aku yang berjalan di depannya masih belum terlalu memperhatikan.

“Haerin~ah… Ige mwoya??”

“Mwoya??” Aku memperlambat langkahku dan mendekati Eunji yang berhenti seketika. Dia tampak sedang membaca catatan di file holder tadi.

Eunji membaca lembar selanjutnya.

“Hoho. Sepertinya… Ini puisi yang sejenis seperti kemarin. Romantis sekali… I feel the heart beat. Inside me ‘till my feet. Ahahaha…” Aku diam mengulang kembali kejadian tabrakan dengan Donghae tadi.

‘Kalau begitu ini buatan Donghae?? Dia membuatnya untuk siapa?? Kenapa romantis seperti ini? Dia kan tidak punya pacar. Nugu???’ kataku dalam hati penasaran.

“Andwaeeeee!!!” Donghae datang dan langsung merebut file holder-nya itu dengan muka merah. Mungkin perpaduan antara malu dan marah.

“Ya!! Mwohae Donghae~ya??!!” teriak Eunji.

“Igo!!” Donghae tiba-tiba muncul dengan muka merah menyerahkan file holder-nya dengan warna yang sama dari tangannya lalu pergi begitu saja sambil menyenggol lenganku.

“Apa-apaan sih dia itu?? Kurang ajar sekali.” kata Eunji lagi. Tapi, aku tak menjawab apa-apa. Eunji yang melihatku diam pun langsung berteriak.

“Yaaaaaa!!! Park Haerin…!!! Andeullyeo??(Apa kau tidak dengar?)”

“E…eo?” Rupanya teriakannya membuat lamunanku buyar.

“Wae??”

“Ani…” Aku berusaha menghindari pertanyaan dari Eunji dan langsung saja terdiam.

“Ya~… Neo waekeure? (Ya~ kau kenapa?) Biasanya jika Donghae bersikap seperti itu, kau langsung mengamuk.”

“Sekarang sedang tidak biasa.” jawabku asal.

Eunji kaget dengan jawabanku ini. Tapi, wajahnya berubah seketika.

“Ya~… Kau penasaran ya, untuk siapa puisi yang dibuat Donghae tadi?”

“Mwo??!!A… aniya…” giliran wajahku yang tiba-tiba memerah.

“Mengapa wajahmu jadi merah seperti ini, Haerin~ah??”

“G…g…gwaenchanha…”

“Ayolah kau mengaku saja. Kau cemburu, ya??” goda Eunji sambil menyenggol lenganku.

“Aish!! Jinjja!! Apa yang sedang kau lakukan hah!!” Eunji masih saja menggodaku.

“Aku ke kamar mandi dulu….” Aku beralasan kemudian meninggalkan Eunji yang masih tertawa-tawa menggodaku. Sial! Kenapa tiba-tiba jantungku jadi berdegup kencang seperti ini?

End of Haerin’s P.O.V

—–

Author’s P.O.V

Keadaan mereka semakin memburuk. Keduanya bahkan selalu membuang muka atau menghindari satu sama lainnya. Padahal, insiden DongHaeRin kemarin sudah berjalan tiga hari yang lalu. Tapi, wajah Haerin masih saja seperti baju yang belum disetrika.

“Ya~… Wajahmu itu tidak enak sekali dipandang.” gerutu Eunji yang merasa bosan karena sahabatnya itu selalu murung.

Haerin masih diam dan tidak menanggapi Eunji. Dia sendiri bingung dengan sikapnya belakangan ini. Hanya gara-gara puisi-puisi di buku Donghae.

“Jamkkanman… Neo Donghae johahae?” tembak Eunji langsung.

“M…mwo??!!” Haerin lagi-lagi tergagap setiap Eunji menyebut nama namja itu.

“Kotjimal… Jika bukan karena itu kenapa kau jadi cepat marah?? Kau itu masih marah karena masih penasaran untuk siapa puisi Donghae itu??”

“A…aniya~” Haerin menghindari mata Eunji.

“Mata dan wajahmu itu tak bisa membohongiku. Neo jinjja Donghae johahae? Jujur saja kau padaku, Haerin~ah…” Eunji menyenggol lengan Haerin. Haerin menggigit bibir bawahnya lalu menjawab,

“Nan molla~… Aku sendiri juga bingung kenapa aku bersikap seperti ini.”

“Kau sedang terkena penyakit rupanya.” kata Eunji.

“Mworago?? Byeong(penyakit)??” Haerin segera mengahadap ke arah Eunji dengan wajah terkejut.

“Eo! Sarangeui byeong.. (penyakit cinta)”

“YA~… Jinjja neo!! Kkapjakkiya~ (membuatku kaget saja)… Aish!” Haerin memukul lengan Eunji.

“Matji??!! (Benar kan?) Muahahahaha…” Eunji tertawa seperti setan.

“Neo kkokjongma. Aku akan membantumu…”

“Mwoya?”

“Jadi kau serius menyukai Donghae?”

“Molla.” jawab Haerin sekenanya.

“Neon ara? (Kau tahu tidak?). Pantas saja aku curiga padamu. Kadang-kadang kau suka sekali mengomel padanya tanpa sebab. Dia juga aneh. Saat kau mengomel seperti itu, dia hanya memandangimu.”

“Donghae? Memandangku?”

“Eo! Dan cara memandangnya juga sangat aneh.”

“Aneh bagaimana?”

“Ani, cara memandangnya padamu itu berbeda… Seperti pandangan orang jatuh cinta.”

“Jinjja?”

“Hmmm… Sepertinya Donghae juga menyukaimu.”

“Jinjja?”

“JINJJAAAAAAAAAA….” jerit Eunji tidak sabar karena Haerin selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama.

—–

“Ya! Aku harus pergi untuk berlatih basket…” pamit Haerin pada Eunji setelah kelas berakhir.

Semua anggota tim basket, yang salah satunya adalah Haerin memang diperintahkan untuk berkumpul mempersiapkan kejuaraan antar fakultas yang akan dilaksanakan minggu depan.

“Eo!! Fighting!!” Eunji menyemangatinya.

“Annyeong!!” Haerin pun melesat keluar kelas sambil membawa bola basket nya.

Eunji mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin karena dia sudah membawa bekal yang disiapkan eomma nya dari rumah. Dia melihat sekeliling ruang kelas dan menangkap sosok Donghae yang sedang membaca buku. Eunji menyeringai.

“Donghae~ya!!” panggilnya.

Donghae mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang dibacanya untuk melihat siapa yang memanggilnya.

“Wae??” jawabnya datar setelah tahu Eunji yang memanggilnya. Dia pun kembali tenggelam dalam buku yang dibacanya.

“Aku ingin bertanya padamu. Penting!!” kata Eunji yang kemudian duduk di kursi depan Donghae.

“Mau bertanya apa? Awas saja kalau kau tanya yang aneh-aneh.” ancam Donghae.

“Arasseo. Aku takkan tanya yang aneh-aneh. Yang pertama, puisi yang kau buat kemarin itu untuk siapa?”

“Wae? temanmu itu menyuruhmu bertanya?”

“Nugu? Maksudmu Haerin?”

“Siapa lagi?”

“Aku tidak bilang dia yang menyuruhku bertanya. Kalau memang iya, dia yang bertanya lalu kenapa? Kau akan menjawabnya berbeda, ya??”

“Ya… Tergantung.” jawab Donghae berusaha memperlihatkan kalau dia tidak peduli. Tapi, keadaan dalam hatinya berbanding terbalik.

“Jadi itu untuk siapa? Untuk Haerin kah?” tebak Eunji.

“Tch… Untuk apa aku membuatkan untuknya?”

“Lalu untuk siapa?” Eunji mendekatkan kursinya ke arah Donghae.

“Kau mau tahu?”

“Tentu saja. Untuk apa aku bertanya jika aku tidak ingin tahu. Dasar babo! Cepat katakan padaku!!” paksa Eunji. Donghae memandang Eunji lalu membuat tanda agar dia mendekatinya lebih dekat.

“Nuguhante? (Untuk siapa?)” tanya Eunji lagi yang kini mendekatkan telinganya pada Donghae.

“Bimiliya… (Rahasia)” jawab Donghae yang lalu tertawa mengejek Eunji.

“Ya!! Kau pelit sekali, Lee Donghae!!!!”

“Pertanyaan selanjutnya. Kalau kau masih punya.” kata Donghae santai.

“Ya! Neo!! Bilang dulu padaku untuk siapa puisi-puisi itu, hah!!” ancam Eunji.

“Tak bisa kukatakan…” jawab Donghae.

“LEE DONGHAEEEEEEEEEEEEEEE!!!!”

“Ya!! Neomu ssikeurwo!!”

“Marhae!!”

Donghae memutar otaknya. Dia mencari sebuah nama untuk mengelabui Eunji. Daripada dia harus berurusan dengan Choi Eunji yang sangat hobi berteriak ini.

“Arasseo!! Akan kuberitahu kau.” Akhirnya dia menyerah.

“Nugu?”

“Ng…. Kim Saera. Dia satu angkatan dengan kita tapi tidak sekelas dengan kita. Dia ada di kelas setelah kita. Kau puas??!!” Tapi Donghae tidak memandang mata Eunji, berarti dia sedang berbohong.

“Jadi dia yang jadi inspirasimu?”

“Eo.” jawabnya lagi-lagi tanpa ekspresi.

“Bukan Haerin??” Donghae menggeleng.

“Dia sudah jadi kekasihmu?”

“Ani… Oke pertanyaan selanjutnya jika kau masih ingin bertanya lagi.” muka Donghae memerah.

“Kau kenapa masih diam pada Haerin?” selidik Eunji.

“Siapa yang diam? Aku memang tak ada urusan dengannya.”

“Kau benar-benar tidak suka pada Haerin, kan??” Donghae tersentak kaget mendengar pertanyaan ini.

“Ehmmm…” Donghae berdeham lalu melihat jam yang ada di tangannya.

“Eunji~ya… Mianhae aku harus pergi menemui Eunhyuk. Aku sudah janji dengannya… Sudah, ya? Akan kujawab pertanyaanmu lain kali.” Donghae beranjak dari kursinya dan membawa bukunya.

“Pertanyaan terakhir…”

“Apa lagi?” Donghae membalikan tubuhnya.

“Haerin sepertinya menyukaimu.”

“M…Mwo??”

“Aish!! Jinjja… Tak ada siaran ulang.” kata Eunji sambil berlalu pergi.

“Neo… Jika kau menyukainya cepatlah bertindak. Araji?” Eunji menepuk bahu Donghae sebelum benar-benar pergi.

“Haerin? Menyukaiku??” Donghae tak bergerak. Otaknya masih asyik mencerna kata-kata Eunji tadi.

“Aish!! Mereka berdua memang aneh. Sudah ketahuan saling menyukai. Tapi, masih gengsi satu sama lain. Dasar kekanak-kanakan.” gerutu Eunji saat sudah berada di luar kelas.

“Jamkkanman. Memang ada yang bernama Kim Saera, ya??” gumam Eunji. Setahu Eunji, tak ada yang bernama Kim Saera di kampusnya.

—–

“Kau bagaimana?” tanya  Eunji sepulang dari kuliah.

“Mwoya?”

“Donghae.”

“Ada apa dengan Donghae?”

“Kalian belum berbaikan juga?” Haerin menggeleng.

“Ah… Payah kalian berdua.” cibir Eunji.

“Dia yang memulai. Kenapa harus aku yang meminta maaf padanya?”

“Kalian berdua memang sama saja… Oh, iya. Aku sudah bertanya pada Donghae tentang puisinya.”

“Ehem… Untuk apa kau tanyakan padanya?” suara Haerin terdengar aneh. Dia berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.

“Kau tidak ingin tahu?” tanya Eunji.

“A…aniya.” Haerin menahan perasaannya.

“Hmmm…. Ya sudah kalau begitu. Aku tak perlu mengatakannya.” Eunji mendahului Haerin, beruasaha memancing perasaan Haerin sendiri.

“Aish!! Babo… Kenapa kau malah bilang seperti itu Park Haerin. Jinjja!!” Haerin menggerutu tanpa suara di belakang Eunji. Dia pun mengejar Eunji yang sudah sepuluh langkah di depannya.

“Jadi kau bertanya padanya?  Apakah dia menjawabmu?”

“Kau penasaran?” balas Eunji.

“Aniya…” Kali ini Haerin yang mempercepat langkahnya. Wajahnya sudah mulai merah. Dia sendiripun tak mengerti apakah warna merah di wajahnya itu mengekspresikan kemarahannya atau rasa malunya.

“Jadi, Donghae memberi tahuku bahwa puisi itu terinspirasi dari seorang yeoja yang bernama Kim Saera. Dia bilang dia tidak satu kelas. Tapi, satu angkatan dengan kita. Apa kau tahu ada seseorang yang bernama Kim Saera? Setahuku yang ada adalah Kim Sooro. Dan dia pun juga seorang namja bukan yeoja. Iya kan, Haerin~ah?” Tak ada jawaban.

“Haerin~ah?” Eunji mencari sahabatnya itu. Dan dia bisa melihat Haerin sudah pergi berbalik ke arah kampus tanpa berpamitan padanya.

“Ya!! Park Haerin!!!!” jerit Eunji sambil menunjuk Haerin yang sudah melesat pergi jauh.

“Benar-benar kurang ajar sekali, Park haerin. Meninggalkanku berjalan sendirian. Tsk… ” Eunji berjalan gontai melanjutkan langkahnya ke halte bus untuk pulang.

End of Author’s P.O.V

 

Haerin’s P.O.V

“Hmmm…. Ya sudah kalau begitu aku tak perlu mengatakannya.” Eunji tiba-tiba berjalan mendahuluiku.

“Aish!! Babo… Kenapa kau malah bilang seperti itu Park Haerin. Jinjja!!” Aku mengutuk diriku sendiri. Aku kemudian berusaha menyeimbangkan langkahku lagi dengannya.

“Jadi kau bertanya padanya? Apakah dia menjawabmu?” tanyaku.

“Kau penasaran?” balas Eunji dengan tatapan kemenangan.

“Aniya…” Aku membuang mukaku dan mempercepat langkahku. Wajahku sudah mulai memanas. Kenapa perasaanku jadi tidak tenang begini?

“Jadi, Donghae memberi tahuku bahwa puisi itu terinspirasi dari seorang yeoja yang bernama Kim Saera. Dia bilang dia tidak satu kelas tapi satu angkatan dengan kita. Apa kau tahu ada seseorang yang bernama Kim Saera? …..”

‘Kim…Saera??’ Aku sudah tak mempedulikan Eunji lagi. Begitu aku mendengar nama yeoja itu, tak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin berlari kembali ke kampus.

Sesampainya di kampus, aku langsung menuju ke papan pengumuman di kampus yang kebetulan berada di lantai dasar. Kucari nama Kim Saera di data yang tertempel di papan pengumuman. Aku urutkan semua namanya tapi aku tak menemukannya. Kebetulan disitu ada daftar nilai ujian minggu yang lalu jadi aku bisa lebih jelas mencari nama Kim Saera ini. Dan sekali lagi aku menemukan hasil yang nihil.

Aku segera menekan speed dial nomer 4 di ponselku.

“Ya~… Neo ottiya??” sembur suara di seberang.

“Aku mencari Kim Saera.” jawabku cepat.

“Mwo?”

“Dan dia tak ada di kelas manapun…”

“Neo. Wakeure? Kau tega meninggalkanku sendiri dan kau mencari Kim Saera!!!”

“……..”

“Kau bilang kau tak peduli. Lalu mengapa sekarang kau…….”

“Heuk!!” Aku tersentak dan langsung mematikan telponnya.

“Aish!!” aku menjejakkan kakiku ke lantai.

“Kenapa aku harus repot begini sih? Apa yang sedang aku lakukan? Untuk apa aku peduli padanya?? Lee Donghae menyebalkaaaaaaannnn!!” aku segera meninggalkan sekolah.

End of Haerin’s P.O.V

 

Eunji’s P.O.V

“Ya~… Neo ottiya??” semburku setelah menekan tombol accept di ponselku.

“Aku mencari Kim Saera.” jawab Haerin di seberang.

“Mwo?” Aku mengerutkan dahi.

“Dan dia tak ada di kelas manapun…”

“Neo. Waekeure? Kau tega meninggalkanku sendiri dan kau mencari Kim Saera!!!”

“……..” Dia tak menjawab.

“Kau bilang kau tak peduli. Lalu mengapa sekarang kau…….”

“Heuk!!”

“Tut tut tut….” Suara pemutusan telepon itu segera terdengar.

“Ya! Park Haerin!!! Park Haerin!!!!!!” teriakku kesal pada ponselku.

“Aish!! Dia ini menyebalkan sekali.” gerutuku.

Kusandarkan kepalaku di kaca bis. Dua orang itu sudah ketahuan saling menyukai. Tapi, benar-benar babo… Tsk… Sepertinya aku harus menyelesaikan masalah ini. Hufftt…

—–

“Ddrrttt… drrtttt….” Aku mendengar ponselku mendengung.

“Yeoboseyo?” jawabku.

“Na ya~… Donghae.”

“Wae?”

“Aku… Tak tahu harus mulai dari mana, Eunji~ya…”

“Haerinttemune? (karena Haerin?)” tebakku.

“Eottokhae?”

“Neo, Haerin joha anya? (Kau suka Haerin tidak?)”

“Mmmm… Menurutmu aku harus bilang apa padanya?”

“Bilang apa bagaimana?”

“Aish! Aku bertanya padamu. Kenapa kau malah bertanya padaku lagi?”

“Maksudku kau mau aku bilang tentang apa? Tentang maaf, tentang pelajaran, atau tentang kau menyukainya. Kau harus bicara yang jelas.” pancingku.

“Aku tau dia pasti sudah bercerita padamu tentang apa yang sudah kulakukan ketika dia ditolak oleh Minwoo. Iya, kan?”

“Kau tahu kalau Minwoo menolaknya?”

“Aku mengikutinya… Ups!!!” Donghae menghentikan perkataannya.

“Kau membuntutinya, ya?? Eonje buteo? (sejak kapan?) Kau menyukai Haerin?”

“A…aku…” Dia tergagap.

“Kau menyukainya, kan? Oke kalau begitu. Aku sarankan kau untuk meminta maaf padanya dulu.”

“Geure?”

“Kereom… Kau tahu? Dia itu kesal sekali padamu karena membuntutinya.”

“Jujur saja. Aku hanya ingin melindunginya saja. Aku sudah tahu Minwoo Hyung akan menolaknya. Maka dari itu aku mengikutinya….”

“Bagaimana bisa kau mengikutinya?”

“Dia mengirimkan secarik kertas untuk Minwoo Hyung dan aku ada disana.”

“Ya sudah… Kau harus jelaskan juga kenapa kau mengikutinya, agar dia tahu juga bahwa kau hanya ingin melindunginya.”

“Arasseo…”

“Ah. Donghae~ya…  Kau bilang padaku kalau puisimu terinspirasi dari Kim Saera, kan?”

“Eo. Wae?”

“Aku memberitahu Haerin.”

“Lalu?”

“Dia tampak tidak peduli awalnya. Tapi, kau tahu apa yang dia lakukan?”

“Mwo?”

“Dia kembali ke kampus dan mencari Kim Saera.”

“Jinjja?” Ada nada tak percaya sekaligus senang dari suara Donghae.

“Eo! Dia meneleponku dan melaporkannya. Dia mencari di semua kelas. Dan katanya tak ada yang bernama Kim Saera.”

“Jadi dia…. Cemburu?”

“Aku tidak……….”

“Gomawo Eunji~ya… Annyeong…”

“Tut..tut..tut…” Aku membuka mulutku tak percaya. Aish!! Keduanya memang benar-benar sama saja. Seenaknya memutuskan teleponnya. Sial!! Sepertinya mereka akan jadi pasangan yang cocok. Tsk!!

—–

Haerin’s P.O.V

“Dia benar-benar menyebalkan!!! Kenapa dia harus berbohong seperti itu. Terinspirasi dari Kim Saera? Bahkan tak ada yang bernama Kim Saera di kampus!” Aku melempar tasku sembarangan di atas tempat tidurku sepulang dari kampus tadi.

“Kenapa aku jadi panas begini? Apa-apaan Lee Donghae itu!” Aku membuka jaketku dan melemparkan tubuhku juga ke sebelah tasku.

Baru saja aku mau memejamkan mataku sebentar, ponselku sudah mengeluarkan bunyi tanda ada telepon.

Kuambil ponsel yang ada di jaketku yang sudah kubuang semena-mena dan langsung saja ku jawab dengan kesal.

“Yeoboseyo??!!” jawabku ketus.

“Na ya~… Haerin~ah”

“Lee Donghae?!!” Aku langsung saja menegakkan tubuhku dalam posisi duduk. Jantungku berpacu cepat saat mendengar suara merdunya. Aish jinjja!! Apa-apaan kau Park Haerin! Kata-kata apa yang kau ucapkan itu??!!!

“Kau hapal suaraku??” tanyanya heran.

To the point saja. Kau mau apa??” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan kami.

“Aniya….”

“Lalu?”

“Mianhae…. Telah merebut file holder-ku dengan kasar kemarin.”

“Oh… Puisi untuk Kim Saera itu??” balasku tajam.

“Neo… Arasseo? Bagaimana kau tahu aku membuat puisi itu untuk Kim Saera? Aku bahkan belum memberi tahumu apapun tentang dia karena kau menghindariku terus.”

“Deg!” Seakan jantungku berhenti mendengarnya bicara begitu.

“A…aku…”

“Kenapa nada suaramu itu seperti tidak suka kalau aku membuatkan puisi itu untuk Kim Saera?” tanya Donghae penuh selidik.

“Y..ya!! Aku tak suka kau membohongi Eunji.”

“Bohong apa?”

“Kau bilang puisi itu buat Kim Saera? Anak kelas sebelah? Kau mau membohongiku Donghae~ya??!! Tak ada yang bernama Kim Saera di sana!!” Aku mengatur nafasku karena memarahi Donghae.

“Kenapa kau marah-marah begitu Park Haerin??” tanya Donghae tenang.

“Deg!!” Lagi-lagi jantungku berhenti untuk sepersekian detik.

“A…aniya… Hanya perasaanmu saja mungkin…”

“Darimana kau tahu tak ada yang bernama Kim saera di kelas itu?”

“Aku mencarinya.”

“Mwo?? Untuk apa?” Pertanyaannya benar-benar membuatku salah tingkah.

“Aku hanya ingin tahu saja!! Wae? Andwae?”

“Apa kau… Cemburu?”

“Iya!! Heuk!! A..aniya aniyaaaaaaa…!!!” Aish!! Babo babo babo!!!! Aku mengetuk kepalaku sendiri.

“Kau repot-repot sekali mencarinya?”

“Eh.. Aku….”

“Wae?? Jadi artinya kau berbohong juga, kan?”

“Mworago??!!!” Mukaku sepertinya sudah panas.

“Hahahaha… Sudahlah… Geuromyeon (kalau begitu)… Sebagai permintaan maafku bagaimana kalau aku ajak kau jalan-jalan?”

“Mwo??”

“Deal?”

“Aku…”

“Ok. Akan ku jemput kau nanti sore… Annyeong…”

“Do…Donghae~ya….”

“Tut..tut..tut..” Aku masih tak percaya apa yang dibicarakan Donghae tadi. Aku kalah telak.

“Nanti…Donghae menjemput…” Perlahan aku meletakkan ponselku. Lalu, aku melompat di atas tempat tidur empukku tanpa sadar dengan hati yang tiba-tiba membuncah seakan ingin keluar dari tempatnya.

—–

“Mwoya?? Kkkkk…. Akhirnya kalian….” Eunji terkekeh setelah aku menceritakan semuanya dan menyuruhnya datang.

Baiklah… Aku juga tak tahu mengapa aku memanggilnya ke sini. Hanya saja selera fashion seorang Choi Eunji ini aku akui di atas rata-rata. Siapa tahu saja dia bisa membantuku memilih pakaian untukku pergi dengan Donghae.

Aish!! Apa yang aku pikirkan tentang namja menyebalkan itu. Jinjja… Ani. Bukan karena itu. Tapi, karena dia seenaknya saja membuat janji denganku. Huh!! Menyebalkan sekali.

“Geumanhae! Dia hanya ingin minta maaf saja.” Aku melayangkan pandangan membunuh padanya.

“Lebih dari minta maaf juga tak apa, Haerin~ah…”

“Jadi apa yang harus kupakai? Yang ini?” Aku memperlihatkan kaos berwarna hijau tosca dan bergambar kartun favoritku ‘Cronk the Little Dinosaur’ temannya Pororo.

“Ya!! Kau itu bukannya mau bermain basket, kan?” Eunji menghampiri lemari pakaianku.

“Dimana kau simpan rok hadiah ulang tahun dariku kemarin?” tanyanya.

“Kau mau aku memakai itu? No way!!” tolakku mentah-mentah.

Yes way.” Eunji mengaduk-aduk isi lemariku dengan brutal.

“Otti??”

“Shiro, Eunji~ya!! Aku ingin memakai kaos ‘Cronk’ ini saja. Lalu, pakai celana jeans juga sudah cukup.”

“Mwo?? Andwae andwae!! Ini, pakailah!!” katanya sambil melemparkan rok itu yang mendarat mulus di kepalaku. Dasar teman kurang ajar!! Kubuka juga bungkusannya dan terlihatlah rok berwarna hijau pupus dengan lilitan pita putih di bagian pinggang yang panjangnya diatas lututku sedikit. Tak terlalu panjang dan tak terlalu pendek.

“Issshhh… Shirooooooo!!” Tubuhku tiba-tiba merinding. Segera saja kulempar rok itu ke kasur. Aku ini sedikit tomboy dan  paling alergi memakai rok.

“Pakai ini juga.” Eunji melempar lagi sebuah vest jeans berwarna biru muda yang baru saja aku beli minggu lalu.

“Baiklah kau boleh memakai kaos Cronk-mu.” kata Eunji.

“Cishh… Kau ini sok sekali…” gerutuku.

“Cepat pakai baju itu.” perintahnya tanpa mempedulikan gerutuanku.

“Pallihae!! (Cepat lakukan!!)” Dia mendorongku tak sabar.

Tidak berhenti sampai di situ. Eunji segera melenggangkan kakinya menuju tempat sepatuku.

Aku keluar dari ruang kamar mandi.

“Eunji~ya…” panggilku agak ragu. Kutarik-tarik juga rok itu. Sungguh risih sekali memakai rok seperti ini. Eunji segera membalikkan tubuhnya ke arahku.

“Waaaaaa… Yeppeo…” Dia mendekatiku dan berjalan memutariku.

“Neo, waekeure? Hajimaaa…” Aku menahannya saat dia akan memutariku untuk ke tiga kalinya.

“Waa… Donghae pasti akan membuka mulutnya saat dia melihatmu. Kkkk.”

“Jangan mengada-ada kau, Choi Eunji!!!” kataku galak.

“Jinjjaya… Hehehehe…” katanya sambil menyenggol lengan kananku.

“Cishh… Berhentilah menggodaku.” kataku sambil meninggalkan dia.

‘Baiklah. Ini cukup… Tapi, rok ini… Ya, Tuhan… Aku pasti sudah gila menuruti sahabatku yang gila itu untuk memakai rok ini.’ kataku dalam hati sambil membetulkan rok yang kupakai.

“Baiklah, Choi Eunji. Aku sudah siap berangkat. Kau boleh pulang sekarang.” kataku lagi saat sudah selesai menalikan sepatuku dan mengambil tas yang akan ku bawa.

“Mworago? No no no… Park Haerin, ada yang masih kurang.” Dia menggoyangkan telunjuknya padaku lalu mendekatiku dan melucuti tasku.

“Apa lagi yang kurang?” protesku kesal.

“Igo…” Dia menunjukan benda yang aku benci setengah mati. Tas make-up favoritnya.

“Muahahahahahaha…” Dia kemudian mengeluarkan tawanya yang seperti setan itu setelah melihat mataku yang melotot ke arahnya.

“Ya ya ya!! Hajima!!!” Eunji semakin mendekatiku. Aku pun lalu berlari menghindarinya. Tapi sialnya, dia lebih cepat menangkapku.

“Choi Eunji!! Jukeosippo? (Kau ingin mati?)” jeritku.

“Aku hanya akan memolesmu tipis saja… Hanya bedak, eye shadow, blush on dan lipgloss saja.” paksa Eunji.

“Hanya?? Kau bilang itu HANYA??!!” teriakku. Eunji kemudian memaksaku duduk.

“Diam saja kau, Park Haerin…”

“Jebal… Jangan siksa aku, Eunji~ya…” rengekku.

“Tutup saja matamu itu. Na mideo…(percayalah padaku)”

Aku menutup mataku. Jinjja…. Lihat saja pembalasanku, Choi Eunji. Eunji membuka ikatan rambutku. Kemudian aku merasakan sentuhan-sentuhan ringan di seluruh wajahku. Eunji pasti tertawa senang diatas penderitaanku ini. Sial!!!

“Park Haerin…”

“Mwo?” jawabku masih dengan mata tertutup.

“Buka matamu… Dan kau harus melihat cermin.”

Aku menghadapkan tubuhku ke arah cermin.

“Awas saja kau, Choi Eunji kalau sampai wajahku…..” Aku terdiam saat aku tepat menghadapi cermin.

“Yeppeo?” Eunji menjawabnya sambil tersenyum bangga karena hasil make up nya itu membuatku tak mengenali diriku sendiri. Yang ada di cermin itu kini adalah seorang yeoja yang terlihat berbeda.

“Geu saram nuguya? (orang itu siapa?)” tunjukku ke arah cermin.

“Yeppeoji?(cantik, kan?)” tanyanya.

“Semoga beruntung Park Haerin.” Eunji membereskan tas make up-nya dan meninggalkanku yang masih saja takjub dengan bayanganku sendiri di cermin. Walaupun make up yang diberikan Eunji ini tipis namun membuat wajahku sukar dikenali. Dan baru kali ini aku melihat wajahku yang benar-benar…..

“Drrtt…” Lamunanku di depan cermin itu buyar karena ponselku bergetar.

 

From: Babo Hae

Aku sudah di depan rumahmu

 

Aku segera menyambar tasku dan keluar dari kamar setelah membaca sms dari Donghae.

“Ding dong!” Aku pun mendengarnya menekan bel rumahku.

“Haejin~ah…” panggilku pada namdongsaengku.

“Ne?”

“Nuna pergi dulu.” pamitku pada adik laki-lakiku yang sedang menonton TV.

“Nuguseyo?” tanyanya

“Haerin Nunamu.” jawabku

“Mwo?!! Nuna??” Haejin langsung duduk terkaget.

“Yang benar saja?? Nunaku itu tak pernah memakai rok dan berdandan seperti itu. Dia itu biasanya sangat dekil.” ucap Dongsaeng ku. Kurang ajar sekali dia.

“Mworago???!! Ya!!” Aku memukulkan tasku padanya.

“Appeo!! Ha??!! Jadi benar kau Haerin Nuna??” Haejin pasti sudah sadar kalau ini adalah aku karena aku telah memukulnya. Rasakan! Dasar anak ingusan…!!

Huh!! Sembarangan saja dia bicara. Memangnya kenapa kalau aku dekil? Menyebalkan.

“Awas, ya? Kalau kau bilang seperti itu lagi. Takkan kuampuni kau, Park Haejin!!” ancamku lalu beranjak ke depan. Di depan pintu sudah ada Eomma ku yang membukakan pintu.

“Eomma… Aku pergi dulu.” pamitku pada Eommaku.

“Hae….rin~ah??” Donghae memanggilku. Eommaku juga mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Wae?” jawabku.

“Haerin~ah… neo jinjja…” Eomma tak meneruskan kalimatnya.

“Kalkaeyo, eomma (Aku pergi dulu Eomma)…” kataku sambil menarik tangan Donghae.

“Eommuni… Saya pergi bersama Haerin dulu…” Donghae berpamitan juga.

“Eo… Hati-hati…” Eommaku masih tak percaya jika yang dilihatnya ini benar-benar ddal-nya.

“Annyeong, eomma…” pamitku lagi.

End of Haerin’s P.O.V

 

Author’s P.O.V

“Kau tahu rumahku?” tanya Haerin setelah mereka sampai di tempat Donghae memarkir mobil sport merahnya.

“…..” tak ada jawaban.

“Ya! Jawab aku!!” jerit Haerin tak sabar sambil menghadap ke arah Donghae. Dan ketika Haerin menatap Donghae, yang ada Donghae sedang memandanginya takjub.

“Wae??!!” bentaknya lagi.

“A… ani…” Donghae bangun dari ketakjubannya.

“Kau mau mentertawakanku??” Haerin bertanya ketus.

“Ani.” Donghae menunduk dan menyembunyikan senyumannya. Haerin terlihat berbeda dan cantik sekali menurutnya. Dia senang karena Haerin melakukan itu untuknya malam ini.

“Neo… Awas saja ya kalau sampai macam-macam.” sungut Haerin sambil membuka pintu mobil Donghae.

“Junbi? (siap?)”tanya Donghae setelah mereka duduk.

“Hmm…” jawab Haerin.

“Jinjja?”

“Eo!! Aku sudah siap!!” Haerin sudah memakai sabuk pengamannya.

“Galak sekali kau ini…”

“Biar saja… Aku hanya galak padamu saja.” jawab Haerin.

“Eiii!! Jeongmal… Kenapa hanya padaku saja? Lalu, hari ini kau memakai rok dan make up ini juga karena kau mau pergi denganku saja? Apakah ini juga karenaku?” tembak Donghae sambil mendekatkan tubuhnya pada Haerin. Hal ini membuat Haerin salah tingkah, wajahnya sudah mulai panas.

“Aish!! Kau ini cerewet sekali… Cepat jalankan mobilnya!!” Haerin mendorongnya yang membuat Donghae tertawa kecil.

‘Sungguh hari ini sepertinya dia melakukan semua itu untukku. Hahaha.kata Donghae dalam hati.

Haerin membetulkan terus roknya. Dia sedikit tak nyaman sepertinya karena ini adalah pertama kalinya dia memakai pakaian yeoja.

“Igo….” Donghae melepas jaketnya lalu menyelimutkannya pada bagian rok Haerin.

“Mwoya?” Haerin memandang Haerin.

“Pakai saja… Aku tak mau milikmu kelihatan.”

“Mwo??!!! Ya!! Apa maksudmu??!!” Haerin memukul lengan Donghae. Donghae bukannya menjawab tapi hanya tersenyum simpul.

“Julbaaaaaaallll.” kata Donghae yang lalu menjalankan mobilnya.

Sudah sekitar setengah jam mereka ada di dalam mobil. Tapi, Donghae tidak juga menepikan mobilnya. Sebenarnya, ini juga karena Donghae sengaja untuk memperpanjang waktunya bersama yeoja yang disukainya ini.

“Uri ottiga? (kita mau kemana?)” tanya Haerin akhirnya

“Sebentar lagi kita sampai.”

“Jangan macam-macam kau, Lee Donghae.”

“Arasseo…. Oh, iya. Kau mau es krim?” tanya Donghae.

“Mwo?” Donghae menepikan mobilnya di sebuah mini market.

“Kaja…” Donghae menarik tangan Haerin dan menyuruhnya membeli semua makanan kecil kesukaannya.

“Waaa…. Makanan kesukaanmu benar-benar banyak…” kata Donghae setelah mereka selesai berbelanja makanan kecil.

“Kau bilang kan semua makanan kecil kesukaanku. Dan semua yang ada di tanganmu itu semua adalah kesukaanku.” jawab Haerin tersenyum puas. Sekantong besar makanan kecil kini ada dalam pelukan Donghae.

“Hmm… Jujur saja, Haerin~ah… Aku sebenarnya tak punya tujuan tempat untuk kita. Ah! Bagaimana kalau kita berjalan-jalan saja dari sini? Siapa tahu kita menemukan tempat yang nyaman untuk kencan kita.” usul Donghae yang sekarang berjalan melewati Haerin.

“Mwo??!!! Kencan apanya!! Ya! Lee Donghae!!!” Wajah Haerin menjadi lebih panas daripada tadi saat berada di mobil.

Donghae meninggalkan mobilnya di depan mini market 24 jam itu. Dan mereka pun berjalan beriringan melewati sepanjang jalan dari depan mini market itu.

“Waaa… Ada taman bermain.” Donghae menunjuk taman bermain itu. Terlihat sepi, karena ini sudah malam hari. Donghae berlari mendahului Haerin.

“Anak ini benar-benar menyebalkan. Mengajakku ke tempat seperti ini hanya karena tidak punya tempat tujuan kencan. Cishh… Kencan katanya? Kencan kepalamu, Lee Donghae…”

“Haerin~ah… Palliwa…” Donghae melambaikan tangannya pada Haerin sambil tersenyum. Dia tampak tak peduli dengan Haerin yang berjalan dengan wajah yang marah. Menurutnya, wajah itu terlihat lebih cantik dan lucu dengan tampangnya yang seperti itu.

“Kau ini seperti anak kecil saja…”

“Wae? Bukankah ini menyenangkan?” kata Donghae lagi.

“Apanya yang menyenangkan?” Haerin akhirnya duduk juga di sebelah Donghae.

“Semuanya…”

“Dasar aneh.”

“Haerin~ah…” panggil Donghae.

“Mwo?”

“Lihatlah aku saat aku bicara…”

“Aish!! Mwo? Mwonde?” tanya Haerin tak sabar dan akhirnya menghadapkan dirinya kepada Donghae.

Mata mereka bertabrakan. Bibir tipis Donghae membentuk senyuman yang membuat Haerin seakan runtuh seketika itu juga. Senyumannya manis sekali. Haerin terdiam memandang Donghae. Jantungnya kini berdebar sangat kencang. Mata Donghae seakan merasuki seluruh ruang tubuhnya. Rasanya sangat aneh. Dia merasa melayang dan seperti ada yang meledak di dalam rongga dadanya.

“Jadi?” tanya Donghae setelah mereka terdiam sebentar.

“Ja…di apa?” Haerin segera kembali ke alam sadarnya dan mencoba tidak melihat ke arah Donghae lagi. Dia sudah tak tahu warna di wajahnya itu.

“Mianhae…” kata Donghae. Haerin tersentak kaget. Dia tak menjawab untuk beberapa saat.

“Sudah seharusnya kan, kau meminta maaf. Kenapa tak kau lakukan sejak kemarin?”

“Aku punya alasan. Kau sedang marah padaku. Aku juga sedang kesal padamu.”

“Mwoya?!! Kau kesal padaku??”

“Ehmm…” Donghae memperlama jawabannya. “Karena kau membaca puisi-puisiku?”

“Itu kan salah paham saja. Lagipula kau kan yang menabraku.”

“Arasseo…. Jalmothaeta (salahku). Tapi kau juga salah. Sudah tahu kertas-kertas itu bukan punya kau. Tapi, kau tetap saja membacanya.”

Sebenarnya bukan itu salah Haerin. Donghae hanya kesal. Kenapa dia tidak melihat dirinya yang menyukainya.

“Aku sudah terlanjur membukanya…” Haerin masih saja membela diri dan tidak mau kalah.

“Ya sudah semua salahku…Hmmm… Geunde. Mengapa kau mencari-cari tentang Kim Saera itu?”

Haerin terlihat tersentak dan kaget karena pertanyaan Donghae yang tiba-tiba itu.

“Aku…..aku…”

“Bureopji? (kau cemburu?). Kuberi tahu sesuatu, ya? Aku ini sebenarnya hanya mengarang sebuah nama saja. Daripada Eunji bertanya padaku terus menerus padaku. Kau mau aku masuk artikel di Koran dengan judul ‘Seorang Mahasiswa Meninggal Karena diteriaki oleh Temannya’ begitu?”

“Huahahahhahaha… Sepertinya koran-koran itu nantinya akan laku keras jika headline-nya berjudul seperti itu.” Haerin tertawa mendengar celotehan Donghae.

‘Ah~… Dia tertawa…’ Donghae memandang Haerin ikut tersenyum.

“Kkokjonghajima (Jangan khawatir) Kim Saera itu adalah fiksi buatanku Haerin~ah… begitu saja cemburu tsk hahaha…” Donghae mengejek Haerin.

“Na… Bureopta aniya… (aku tidak cemburu). Hanya saja kau telah membohongi Eunji. Dan aku tidak bisa menerimanya jika kau membohonginya tahu!!” kata Haerin ketus, tak mau terlihat bahwa dia sebenarnya memang sedang cemburu tanpa sadar.

Dia melipat tangannya. Tapi, matanya tak memandang ke arah Donghae. Dia mengambil sekantong Pop Corn dari kantong belanjaan tadi.

“Eunji saja tak repot-repot mencari Kim Saera. Kenapa kau….”

“Aish!! Semaumu sajalah Lee Donghae.” Haerin menyuapkan segenggam pop corn nya ke mulut Donghae.

Sebenarnya Haerin bingung menjawab pertanyaan Donghae. Benar juga katanya. Kenapa dia harus repot-repot mencari Kim Saera ini?

“Ya! Park Haerin!!!” Haerin menjulurkan lidahnya pada Donghae lalu tertawa lepas. Donghae terkesima.

‘Kenapa kau harus mengeluarkan ekspresi itu Park Haerin? Ekspresi yang sangat aku sukai. gumam Donghae.

Donghae tersenyum lagi melihat Haerin yang kini telah mengubah fokus pandangannya ke atas langit. Dia benar-benar tak bisa menahan senyumannya setiap melihat Haerin malam ini. Dan akhirmya Donghae juga mengikuti Haerin memandang langit.

Mereka kemudian terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Langit malam itu lumayan cerah, bintangnya juga banyak.

“반짝반짝작은별/아름답게빛이네/동쪽하늘엤어도/서쪽하늘엤어도/반짝반짝작은별/아름답게빛이네….(Banjjak banjjak jakeun byeol arumdabge bitchine/dongjjok haneulesseodo, seojjok haneulesseodo/ Banjjak banjjak jakeun byeol arumdabge bitchine*Twinkle Twinkle Little Stars Korean Version*)…” Nyanyi Donghae tiba-tiba. Dan tanpa sadar Haerin tertawa kecil sambil bertepuk tangan.

“Kamsahamnida kamsahamnida……” Donghae berdiri lalu membungkuk seakan banyak penonton yang menontonnya.

“Suaramu bagus juga…” puji Haerin.

“Jinjja? Jadi, apakah aku harus mengikuti audisi untuk jadi artis saja, ya? Lagipula aku bisa menari dan dance-ku juga lumayan… Iya, kan?” tanya Donghae.

“Aish… Jinjja neo… Tak bisa sedikit saja aku puji…”

“Hahaha….” Donghae tertawa, membuat wajahnya semakin tampan dan membuat Haerin memandangnya.

“Bintangnya bagus sekali ya? Seperti kau.”

“Deg!” Jantung Haerin seperti mau copot saja.

“Malam ini kau tampak bersinar sekali. Aku baru pertama kali melihatmu yang seperti ini Haerin~ah…”

“…..” Haerin tak menjawab. Dia masih sibuk menata hatinya yang seakan sudah leleh karena kata-kata Donghae. Dia memang bukan tipe yeoja yang langsung bisa seperti itu. Tapi, kenapa rasanya beda saat bersama Donghae? Dan malam ini juga. Pertama kalinya dia berbicara dengan Donghae hanya berdua saja.

“Aku ingin mengakui sesuatu padamu. Haerin~ah…”

“M…mwo?”

“Apakah kau mau tahu mengapa aku tiba-tiba muncul saat kau bersama Minwoo Hyung dulu?”

“Jadi kau sengaja?”

Donghae mengangguk dan melanjutkan penjelasannya.

“Aku sebenarnya tahu kau menyukai Minwoo Hyung. Dan aku juga sudah tahu bahwa Minwoo Hyung juga sudah memiliki pacar dari kampus lain. Aku menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu berhenti menyukainya. Tapi… Saat aku sedang menunggu itu kau sudah memberikan surat itu untuk Minwoo Hyung. Aku tak menyangka kau akan menangis saat Minwoo Hyung menolakmu. Dan saat kau menangis itu sebenarnya aku sangat ingin menghiburmu. Tapi….”

“Tapi kau mengeluarkan kata-kata yang menyebalkan…” lanjut Haerin.

“Eo… Kau tahu kan jika aku sedang berbicara padamu… Mianhae… Yang sebenarnya cemburu itu aku. Aku cemburu kau menyukai Minwoo Hyung..”

“…….”

“Sasileun na…. Neo johahae (Sebenarnya aku…. Menyukaimu) ” Donghae memutar tubuhnya menghadap Haerin.

“Mworago?!! Tsk… Kotjimal…(Apa katamu? Tsk.. Bohong…)”

“Na kotjimal aniya… (aku tidak berbohong). Aku benar-benar menyukaimu sudah lama. Sejak pertama kita bertemu…”

“Itulah mengapa aku bilang kau berbohong. Pertama kali kita bertemu kau kan mentertawakanku saat aku terjatuh karena kita bertabrakan dulu. Dan pertemuan selanjutnya kau sering menggangguku, kau suka mengejekmu, dan cara bicaramu juga sungguh sangat menyebalkan…”

Donghae hanya tersenyum memperhatikan ekspresi wajah Haerin yang paling di sukainya.

“Ja… jadi mengapa kau melakukan semua itu padaku? Aku juga sering mengomelimu. Apakah itu juga merupakan bagian yang menyenangkan untukmu? Dan bagian mana dari perlakukanmu itu yang menunjukan kau me…nyukaiku?” Haerin tergagap.

Donghae berdehem.

“Apa aku harus punya alasan untuk mencintai? Di kala cinta datang tiba-tiba. Haruskah kau terus menanyakannya?” Wajah Donghae kini semakin mendekati Haerin.

Haerin sendiri sekarang mematung dengan wajah merah. Kata-kata puitis Donghae tadi membuatnya luluh dan meleleh seperti es krim yang dijemur di Padang pasir bersuhu 100° C. Jantungnya sudah tak bisa dikendalikan lagi. Tapi, tak ada kata yang keluar dari mulutnya.

“Gwaenchanha, Haerin~ah…Aku sudah tahu jadinya akan begini. Tapi, aku lega karena aku sudah menyampaikan perasaanku padamu…” tiba-tiba Donghae berdiri.

“Sudah malam. Ayo kita pulang…” lanjut Donghae tanpa berani melihat Haerin.

Tapi baru saja selangkah Donghae melangkahkan kakinya, Haerin yang dari tadi diam saja tiba-tiba berdiri dan membuka mulutnya.

“Cinta memang kadang datang tiba-tiba. Beribu alasan yang dia punya. Aku bertanya hanya ingin tahu apa mau cinta…” Donghae berhenti mendengar kata-kata Haerin yang tiba-tiba.

Donghae tertawa senang lalu membalas kata-kata Haerin.

“Kau yang diminta cinta. Kau yang sempurna di matanya.” jawab Donghae yang kemudian berbalik ke arah Haerin. Haerin tampak berpikir keras untuk menjawab kata-kata Donghae lagi.

“Karena cinta yang minta. Keurom gwaenchanha….(Ya sudah tak apa.)” jawab Haerin.

Donghae mencerna kata-kata Haerin. Agak lama mereka terdiam. Tapi, Donghae tiba-tiba tertawa keras kegelian.

“Huahahahahahahahahahahaha….”

“YAAAAAA!!! Neo jinjja… Augh!! LEE DONGHAE MENYEBALKANNNN!!” Haerin menahan rasa malunya yang amat sangat itu. Haerin menggembungkan pipinya kesal karena Donghae mentertawakannya.

“Aigoo aigoo… Mianhae mianhae… Jadi jawabanmu?” tanya Donghae yang masih menahan geli.

“Lihatlah siapa yang tak bisa sensitif??!!” Haerin yang sudah sebal gara-gara ketidaksensitifan Donghae mulai melangkahkan kakinya kesal melewati Donghae.

“Aish!! Dasar… Benar-benar tidak sensitif sekali dia itu. Kenapa kalimatku saja dia tak bisa mengartikannya? Dasar Babo!!” gerutu Haerin dalam hati sendiri.

Donghae mengambil makanan yang mereka beli tadi dan segera menyusul Haerin, masih sambil tertawa. Walau Haerin menjawab cintanya dengan puisi yang aneh. Tapi, dia tak peduli.

Donghae menghentikan langkah Haerin dengan menahan tangannya.

“Wae ddo? (apa lagi??)” Haerin berhenti dengan wajah cemberut.

Donghae tersenyum dan….

“CUP!” Dia mengecup bibir Haerin cepat. Membuat Haerin merubah raut wajahnya yang tadinya cemberut menjadi raut wajah kaget.

Tangan kanan Donghae kini menyusuri pipi Haerin,

“Kau tahu aku menyukai semua ekspresi yang kau buat… Everything seem really different by its own way…” Donghae menutup matanya dan membuat wajahnya semakin mendekat dengan Haerin. Haerin pun menutup mata juga, sampai bibir mereka bersentuhan satu sama lain.

Forgive me my lady. For the laughter that you see in me. Can you see that I’m happy?” Donghae berkata setelah ciuman mereka berakhir. Tangannya kini menggandeng tangan Haerin.

“Aku tak mau menjawab kata-kata puitismu lagi. Aku tak sehebat kau, Donghae~ya…” kata Haerin yang membalas genggaman tangan Donghae.

“Jadi sejak kapan kau menyukaiku?”

“Tak akan kuberi tahu…”

“Jadi, kau berdandan malam ini benar hanya karena kita akan pergi berdua??”

“YA! LEE DONGHAEEEEEEEEE!!!!”

*****

Well, ini adalah pertama kalinya author syipoh dan esa eonni tidak berkolaborasi seperti biasanya. Syipoh hanya edit ff dari esa eonni ini dan sukses dibuat muntah di bagian terakhir. Eonni.. Neo… So cheesy!

Ah… eonnie, chukhahamnida ^^ Aku gak bisa kasih apa2… Cuma beginian en doa aja buat eonnie.

Kkumers!! Doain juga ya biar Rhien eonnie ama Nemo Oppa (calon suaminya) tetep langgeng en cepetan punya aegi yang lucyu hahahahaha… katanya dia ngijinin Donghae Oppa nikah kalo dia udah punya anak dua biji #plak kkkkk…

Haerin Eonnie, I hope you like my ff present. Ini udah aku upgrade dibandingin versi aslinya yang bikin aku ngakak karena banyak kata-kata yang aneh onn. Hehehehe…

Eonnie, Hope you can be happy and I do believe that you will with Nemo Oppa. Wish you both be the happiest couple until the death separate both of yo. Ammmiieeenn해린언니과니모오빠 행복하세요 ^.^

Eon, doakan aku juga sapa tau si Kyuhyun cepet insap dan langsung melamar akyu huahahaha….Annyeong!!!! *Kabur sebelum dibakar SparKyu Sedunia.*

165 thoughts on “{Gift} Cause Who You Are So Beautiful

  1. wkwkwkwk…..

    seruuu
    lucu
    ngakak
    aplgi y,,,

    semua jadii satu disini…
    hehehe
    truss kta2 donghae pas nembak (?) puitiis…

    abis ntu byangin sosok kyu yg tiba2 romantis gaje,,,
    alamakkk…
    langsung jeriitt histeriis pastii bini2 nya,, hahaha
    #plak
    wkwkwk

  2. huweeeeeeee T_T mewekkk benerannn.
    aigooo, jeongmal Gamsahamnida Myeonjjang n pooh.. i like your FF as always of course…

    poems’nya aku suka smua,,, ga lebay tp pas. aq pan jg suka bqin quote bwt Haeppa.
    trus kirain endingnya Minwoo jd milik aq jugaaa.. hahaaa
    n itu kenapaaa kisseu sm donghae oppa cm bentaran.. pan pengennya lama myeonnn xD

    once again, thankyou so much for this wonderful gift.
    amin atas smua doanya..smoga cpt punya donghae Jr yaaa.. amiinnn ^^

    bakal aq baca trus smpe hafal kaya KyuRa.. kkkkk…
    Saranghae Myeoonnnn :*

    • >///<
      onnie… hiks hiks… akyu terhura eh terharu,..
      padahal aku nyangkanya ini ff aneh bin ajaib dah..

      eaaaaa… rakus amat yak minwoo juga mau diembat juga wkwkwkw,,,
      eh itu ceritanya kisseunya lamaaaaaa onn cuma akyu gak bisa menggambarkannya, lagipula aku pgnnya gak dirty gtu, kl kisseunya kyura digambarin kn kesannya gimanaaaaaaa gtu, kl yg ini aku pgn onnie mnikmati keromantisannya *beuhh bahasanya

      gomawo udah suka onn!! aku takut onn gak suka huhuhuhu….
      Uri Jangmyeonnie na do saranghae ^^ haengbokhaseyo……..

  3. uda baca uda baca😀 bagus oenn~ tp sepertinya sifatnya donghae agak tdak cocok dengannya hehe just coment oen xD bagus, aku suka🙂

  4. kyaaaa abang ikankuuu kau slingkuh dgn haerin????
    andweeeeee
    #plak
    haeppa kau membuatku patah hati kesekian kalinya
    hiks hiks hiks
    tapi klu kau bhgia,aku jg bhgia oppa,,,,,
    #eeeeaaaaaaa
    mauuuuu dikasih puisi sama haeppa
    oppa aku tunggu puisi cintamu untukku kkkkkkk
    nice ff,,,,

  5. Kyaaaa…. esa eonni!!!
    Ini bagusssss sekaliiii!!! Waah.. ceritanya aku suka, main castnya apalagi, Donghae oppa!! hehe ^^

    Haerin eonni, chukhae…!!! *mari kita berbagi Si Ikaan mokpo!! haha“ saya ELFish juga loh.. wkkwk.. #ga ada yg nanya…

    Donghae Donghae Donghae…. Love U Love U Love U!!!! ^^,,^^,,^^,,

  6. gomawo mela~ya !!!
    hihihihi padahal dulu aku sodorin ama temenku dia gak komen apa2 sambel dah..makanya ini ff baru aku publikasikan, soalnya aku keburu down duluan tp byk yg suka ya. alhamdulillah ya.. sesuatu bgd hihihih
    @haerin onnie: wkwkwkww..itu tuh ya ada yg minta share donghae hahaha

    • Cheonma eonni.. ^^ aku suka alur ceritanya, bikin yg baca jd gregetan sdri… aku baca sambil bayangin wajahnya ayank ku yg tampan (lee donghae maksudnya, haha),,, mgkn yg dulu ga ngerti kali eonn mkanya ga komen.. haha“

      Jiaah eonni, knpa malah kena virus Syahrini gt??😄
      Daebaaak eonni… ^^

  7. puisiny donghae ehmmmm cocuit bgt kata2ny,,,
    dpt ide dr mana ni thor kata2 romantisny???
    ikt blajar ngegombal jg ahh,,
    lumayan ntr d kirim bwt kyuu oppa sapa tau dia klepek2..
    hahahahahahahahahahahahaha..#cipokkkk kyuuuuu

  8. wahh kayak gitu yaa kalo orang lagi jatuh cinta, benci ama cinta beda tipiss…
    cerita yang menarikk ^^
    kata-katanya puitisss bangeettt d^^b

    Daebakk buat ff na ^^

  9. Hyiahaha…. ikaaann… nice ff.. co cweet…xD
    Selalu sukaaaaa kata2 unn yang bikin ceritanya manissss *gula* dan menggelikan..wkwkwkwk
    sayang gada yadong’nya…. #plakkkk

    Selamat yaaa buat unnie yang mu nikah…^^

  10. I LIKE IT..
    FF’y keren dh,,bwt aKYU senyum2 gaje gtu.
    hahahaha

    bwt haerin onnie,,chukae ya..
    smoga langgeng n cpet di kasih momongan ya.
    hehehe

  11. choi hana disiniiiiii
    *tabur bunga*
    *kata esa sama syipoh: yaah, tuh anak dateng lagi,pasti mau ngerusuh,banyak bacot lagi =_=*
    hehe,kali ini aku dateng gak bakal ngerusuh n ngebacot, cuma mau ngasi kecup kecup mesra aja *hoek*
    okeh,cukup pembukaannya.

    ehm,
    wiiiii,as usual very nice ff. 2 thumbs up!
    cie ilaah itu donghae sweet amat daaah,
    btw,itu itu itu itu!
    *apaan si itu itu*
    ige mwoya onnieeeeee~ya itu minwoo aku kenapa dipairing sama yg lain!
    huhuhu,gak rela!
    eh tapi lebih gak rela lagi kalo kyuhyun si yg di pairing sama yg lain. udah cukup ya aku berbagi sama kyora,hehe

    ah udah ah ngomongnya
    *woy,lu tuh nulis,gak ngomong*
    *dijitak*
    *bales jitak*

    ditunggu onn,kyuranya,
    tetep semangat ya,hwaiting!
    sampe jumpa lagi…
    daaaaaa…
    *lambai-lambai*

    • mwoya?? ini komen apa pidato yak??kkkkkkkkk
      gomawo udah baca ff yg bkin hoek ini..hihihi
      lah emang napa??itu no minwoonya buka yg anak ingusan BF loh ya…
      oyaaa mangap2 ini bukan Kyora tp Hyora aduhh jadi ambigu gini deh Kyuranya hahahaha…
      Kyura (Kyuhyun Hyora ) sedang dalam proses hehehehee ditunggu ajahhh

  12. eonnnnnnnnn…… ijin kan aq muntah ya haha
    bner kata eon syipoh, ini agak lebay lebay gimanaaaaaaa gitu.
    ada apa dengan mu eon?? kau jatuh cinta ya?? makanya bikin ff nya manis gini #plakk sok tau.

    hahaha..aq gk bisa brhenti ketawa eon, kkkk ff nya bagus.. maniss banget banyak puitis nya,mengingat donghae manis kkk.

  13. huweeeeeeeeee…………..
    aku menangis bahagiaaaaaaa………..
    romantisssssssssssss bangettttttttttttttttttttttttt…………………..
    *mbayangin aq yg jadi Haerin……
    lanjutin dong crita_y…..
    *HAerin…aku bgt yakinn…. #PeDe Gilaaaa…..

    ini mba esa & syipoh suka_y bikin FF yg jalan crita_y gag bisa q tebakkk…..
    aku kasih jempol 12 sipp sipp sipp *pinjem jempol Ayank Kiwi & Hae

      • oww oww oww…
        itu yg bagian ending_y…
        mbayangin q yg dikasih puisi ituuu… ehh malah mbrebes mili(nangis) ….
        enak aja mau tebar kolor ayank2 ku…..

        AKU MAU DEMOO…
        lanjutkan FF donghaeeeeeeeeeeee…………
        kasih yadong_y dikit…. NC17 lahhh…….

  14. huwee,
    kenapa kau begitu berharga, haee~
    tapi, onnie~ puisi cinta yang diucapkan haerin itu bahasanya terlalu tinggi buat saya, saya gak begitu nyambung -_-” *bilang aja bodo*

  15. haha.
    Ampun c hae.
    Puisi2.a trlalu romantis.
    Ckckck.
    Awal.a ksian ma haerin d tolak minwoo.
    Tp trnyata dy ska ma hae.
    Agak.a dr awal it dy ska.a ma hae kan sering berinteraksi mrka.
    Cma gra2 hae it bkin ksel haerin jd mrah2 mulu.
    Q tnggu lnjtan kyura ma lunar oath.a^^

  16. Assalammualaikum…. ehm ehm.. anak papi datang,, wkwkwk #abaikan
    lansung komen saja deh ya… eonni.. wkwk

    kyaaa eonni… kenapa kenapa kata2nya begitu,,, romantis bin menjijikan -,-V
    don’t be sad my princess… i’m here to heal your broken heart… wkwkwk suka banget ama tuh kata2…. aigoo,, mereka romantis banget yaw.. menyatakan perasaan berbalas puisi,, tapi balesan puisi haerin aku tak mengerti #plakk
    huaaa apalagi yah,, ff ini so sweet bgt,,, aku baca mau tidur,, dan ngebayangin diriku dan mONEWku #slaped,,, next ff ditunggu eonni…nice ff 2 thumb🙂
    o iaaa,,, chukkae buat haerin eonni yg mau nikah… semoga langgeng,, berkah dan cepet punya anak,,,kekeke,, udah ah,, aku capcue dari sini,, anyeong eonni,, lambai2 bareng papi wkwkwk😀😀

    • Walaikumsalammmmmmmmmmmmm!!! eh eh eh….. si anak sapi datang #Plak *anak papi onn…*

      hahhaa… muntah2 deh ya… kkkkk
      mamng sengaja tuh jadi haerin ini kan gak pinter bkin puisi yang dia tau ya pokoknya yang belakangnya sama gtu…. kkkkkkk

      Ammiiiiiiiieeeeeeennn!!

  17. wah, aku udh baca….
    aku ampe tidur jam satu malam demi nuntasin baca ini….

    ih,,,,
    romantis banget sih si ikan itu…
    nakal demi mencari perhatian, trus dia juga bisa buat puisi cinta yg indah…
    Si Donghae emank rajanya Romantis deh..
    temen Onnie pasti sukaaaaaa banget….

    Kyura’a ditunggu Onnie,, temenku ketagihan baca Kyura tadi, dia ngk sengaja nemu di Hapeku…
    hilang sudah KyuSeo couple krna Kyura couple….

    • hahhaai.. iya bkin sendiri kecuali baris yang “If I was a tears i want to be born in your eyes” itu aku prnah baca dimana gitu hahaha… tp ke bawah diriku sendiri yg bkin ^^

  18. romantis tp aku kok ketawa yaaaa… Hahahaaa. Mungkin karena donghae sama haerin lucu bgt ngungkapin perasaannya yaaaa hahahahaa

  19. Kyaaaaaaa *gulang guling* #pelukhaekyu aihhh merinding..merinding >o< Yeobo kta2mu bkin sakit perut😄
    puisinya bgus.. Joha!!🙂
    disini hae kya bad boy tp ttp gombal gembelnya mash ada /diciumhae😄
    simple but nice🙂

  20. DAEBAK!!!
    Ff.a keren banget onnie. .
    Romantis gmana gtu. .
    Donghae mah jahil bgt k haerin. .
    Crita.a haerin benci jdi cinta nih ya, hihi. .
    Sypa sih yg ga tersepona dgn seorang lee donghae😀

  21. selalu klo cast utama dongahe pasti romantis bombastis fantastis ring ding dong(?)

    ahhh keren ko ff yah cuma ada beberapa bagian yg gak aku ngerti

  22. Donghae…kapan sie kamu g bs bkin yeoja mleleh?
    Mau dong dilelehin m Teukpa!
    Esa eonni…:-*…trnyata kamu pnya byk kata yg mnjijaykan nmn mghanyutkanku..!

  23. kyaaa~ ini FF solonya esa eonnie ya?
    keren loh eon!! *hug* >.<
    yah geli2 gimana gt baca puisinya
    tp klo ngebayangin dikasi puisi itu sama donghae sih lgsg lumer dah *brasa eskrim*
    hahaha
    syipoh kpn nih publish FF solo jg? pasti ga kalah keren deh hihihi

    anyway, chukkahaeyo buat haerin eonnie
    smoga langgeng n bahagia terus ^^

  24. wuahahhahahaha…. setuju sama Eunji: “Aish!! Mereka berdua memang aneh. Sudah ketahuan saling menyukai. Tapi, masih gengsi satu sama lain. Dasar kekanak-kanakan.”
    Hidup Eunji,, tapi kok Eunji gak da pasanganya ya?? kenapa minwo gak sama Eunji aja??tp nanti beda cerita y😛 hem,,, malangnya nasib Eunji…..
    kok malah bahas Eunji?? =.=” haduu~h

    langsung aja ya alias to the point………tralalalalalalala

    DAEBAK,,,DAEBAK,,, DAEBAk onie,,, DAEBAK😀
    always like FF buatan onie2 @elftodie21 @syipoh

    NB: onie buatin FFnya Lee Hyuk Jae lg donk,,, wuehhehehehe🙂 >> aku tunggu FF selanjutnya ^^

  25. Annyeongggg,,,

    Wahhh critax bgus bngettt,,ĄƘųω sukaaa, donghaex romantis bngettt,,♍ªǚ.. Dunk dibuatin puisi ma donghae,,Ђέђέђέ«{^⌣^}»ђέђέђέ😀
    Crita di ff ini tuch lengkappp,,Άϑά adegan yg lucu, romantis, memalukan, semuax terkemas secara rapi,,,tidak berlebihan,,,tp terasaaa,,Ђέђέђέ«{^⌣^}»ђέђέђέ😀,,, idex jg kreatif,,ĄƘųω jd bngung ♍ªǚ.. Komen apalagii Ђέђέђέ«{^⌣^}»ђέђέђέ😀,,o ўά ĄƘųω tunggu lg karya2 author yg laennyaa ўά,,

    Gomawooo,,-(ˆ▿ˆ)/

  26. Mian bru bsa komen skarang….
    wah c donghae ga sama hyunri y…
    ceritanya bgz bgt..
    c ikan kurang cocok ah klo jd evil kya Kyu.
    dy kan romantis.
    ahhaaaaa….
    tp Good Job bt author…
    ^^

  27. huwaaaaaaa………..maru nongol di kkumfiction, setelah sekian lama tak kesini😀

    kereeen eonni, tapi klo aq lebih suka cerita yg bergenre marriage life
    seperti kyura moment😀

    kapan nih eon dilanjutkan serial kyura moment nya ???

    duo eonni daebakkkk

  28. huaa emang ff bknan eon” ni Daebakkkk,k,kkkkkk,kkkk dah

    Ape spiclesss mau comen apa …… Hoho

    Lanjutttttttttkaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnn ^^

  29. wiih daebakk dong hae oppa, akhrny dong hae dan park haerin pcran juga.
    bgus oenni, q suka kata2 dong hae buat hae rin .. like this.

  30. Wowww!! Bagus bagusss~ authornya jago banget bahasa koreanya..
    Jd baca ini sekalian belajar bahasa korea😀 menambah kosakata🙂

  31. Eonnie!!!! Aku mau sequelnyaaaaa :”((((( ff nya daebak daebak daebak jinja daebak!!!!!!!!!!!!! Buat sequel gimana mereka pacaran dong eon, kan seru *-*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s